Rabu, 22 Oktober 2014

Dengarkan Saya

Teringat..beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan sosial pengobatan gratis oleh sebuah klinik. Program pengobatan gratis yang dibidani oleh Jamsostek. Jadi selama 2 hari saya bersama beberapa rekan pimpinan dr. Sih Astuti melakukan tugas ini. wah pasti sangat menyenangkan. Kami segera berbagi tugas. Secara garis besar kami dibagi kedalam 4 bagian yakni Pendaftaran, Timbang dan Tensi, Pemeriksaan Dokter, serta Pengambilan Obat. Saya sendiri bertugas di bagian pendaftaran. Ah menyenangkan sekali pasti

Semua menjadi sedikit diluar prediksi saya. Selama dua hari, saya sangat mengalami kelelahan yang luar biasa. Semua jadi pegal, capek, males, dsb. Tapi overall saya sangat menikmati semua.
Ada kejadian lucu lho yang saya alami. Saya dibagian pendaftaran, dan salah satu tugas yang harus saya lakukan adalah menanyakan kepada pasian mengenai alergi obat yang dimiliki, agar nanti bisa ditangani lebih khusus jika memang memiliki alergi terhadap obat. Dan beruntungnya kejadian ini saya nikmati dalam 2 percakapan tentang alergi obat pada pasien yang sudah sangat tua. Begini kurang lebih kedua percakapan itu
///////////////////
Saya : “mbah, gadhah alergi kaliyan obat mbah?” – “mbah, apakah anda memiliki alergi obat?”
Pasien 1 : “niki, tangan kula gathel-gathel trus awake keju kemeng” – “ini mas, tangan saya gatal-gatal dan badan saya pegal linu”
Saya : ………………………
Pertanyaan saya mengenai alergi obat yang dimiliki bukan keluhan yang sedang dirasakan
////////////////////
Saya : “mbah, yuswanipun pinten?” – “mbah, usia anda berapa?”
Pasien 2 : “mbah Karman, sak niki sampun seda” – “mbah Karman, sekarang sudah meninggal”
Saya : …………………….
Saya bertanya berapa usia pasien tapi jawaban yang diberikan adalah nama suaminya yang sudah meninggal
//////////////////
Dari dua pertanyaan tadi mungkin benar jika da kemungkinan saya salah metode dalam menyampaikan pertanyaan dan juga bisa mungkin bahwa pasien tidak mendengarkan apa yang saya tanyakan. Tapi intinya adalah satu yakni TIDAK ADA KOMUNIKASI YANG BAIK
Bro..sist..
Ini tentang mendengar…
Seolah secara otomatis kita dilahirkan untuk menjadi seorang pembicara yang ulung daripada menjadi seorang pendengar yang baik. Kita terbiasa untuk banyak bicara dan menginginkan orang lain untuk diam mendengar serta menyimak semua kalimat yang keluar dari mulut kita. Apa benar? Renungkanlah. Ini terjadi terus menerus dan berkesinambungan. Lantas kemudian saya berfikir, apa ini yang kemudian membuat kemampuan kita mendengar menjadi menurun? Entahlah
Dan dari itu semua, kita diharapkan tidak menumpulkan kemampuan mendengar kita. Ada baiknya kita bersedia untuk memberikan telinga dan waktu kita ketika ada orang lain yang tengah bercerita, berbagi kisah, atau berbicara. Karena ini adalah kebutuhan, kita semua, INGIN DIDENGARKAN……..
Read More >>

Secuil Remah Cerita dari acara Nongkrong Bareng

Melakukan hal baru di tempat yang baru selalu menjadi satu hal yang menyenangkan. Walau mungkin saja kita sudah sering melakukan ditempat yang lain.
Misal saja, mungkin pas kita lagi makan bakso dipinggir jalan itu, rasanya pasti ya normal-normal saja dan tidak ada yang spesial. Tapi jika kita makan baksonya di tengah jalan? masih biasa-biasa sajakah? tentu lebih penting untuk berfikir bagaimana bisa selamat dari ancaman bus yang lalu-lalang di jalan (kenapa juga kita makan bakso ditengah jalan – iya, saya mengigau)
Maksudnya tentu akan ada rasa canggung dan grogi jika kita harus melakukan hal baru di tempat baru, rasanya begitu asing.
Seperti yang baru saja saya lalui. Main musik akustik di acara Nongkrong Bareng dalam rangka Bulan Keluarga di GKI Sorogenen.
Entah karena apa dulu saya mengiakan ketika pak Anwar punya konsep untuk acara tersebut diisi dengan musik akustik sebagai Home Band itu. Yah, jika pernah ke cafe atau lihat Bukan Empat Mata, ILK, OVJ atau apalah. Jadi ada musik pengiring ketika nanti jemaat nongkrong, makan-makan, dan ngobrol di gereja.
“Oke, sip” jawab saya dengan semangat 45 ketika pak Anwar menawarkan ini kepada saya.
“tenanan lho dhe, musik akustik digarap sing apik” kata pak Anwar menegasgan
“Hmmm”
Dalam hati saya ini bukan hal yang susah, ini bukan hal yang benar-benar baru bagi saya. iya, di Gereja saya berjemaat, GKJ Jebres, saya sering juga melakukan ini. Bareng adhek-adhek remaja di GKJ Jebres saya biasa main musik akustik sembari menemani jemaat yang menikmati jamuan makan di Perjamuan Kasih setelah ibadah. Rasanya biasa, tidak membuat saya dek-deg na, apalagi sampai mimisan (lhooo). Mulai dari pegang gitar, Bass, atau bahkan vocalis. Biasa
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah main di salah satu restoran ternama di Solo, D’Colonels. Waktu itu tidak ada rasa grogi berlebihan ketika main akustik bersama #hashtag (nama band saya). Biasa saja

Dan sejujurnya setelah hanya kurang dari 1 minggu acara nongkrong bareng tersebut. Sibuknya pekerjaan dikantor dan kesibukan di GKJ Jebres seolah membuat saya lupa dengan acara ini.
Hanya konsep yang sudah saya fikirkan waktu itu. Ahh, nanti akan saya kerjakan seperti yang sering saya lakukan. Bermain dengan posisi 1 Keyboard, 1 Gitar, 1 Kajon, 1 Bass, 1 Vocalis, 2 Mangkuk Mia Ayam, 1 gelas es Teh.. (lhoooo- iya, saya mengigau lagi)
Sedang untuk lagu nanti gampanglah, paling hanya lagu yang biasa juga saya bawakan waktu main Akustik di GKJ Jebres. Lagu Allah Sumber Kuatku dan Mengejar HadirMu selalu jadi andalan untuk acara ini.

Tugas kedua adalah menentukan siapa yang akan saya ajak join dalam grup ini. Semula saya mau ajak pak Anwar yang main bass, tapi malah takut pas main nanti gitar yang harusnya dimainkan malah digambar motif bunga sama pak Anwar. Atau juga mau mengajak pak Ari Basuki untuk jadi vocalis, tapi takutnya waktu pas harusnya nyanyi pak Ari Basuki malah duduk masin didekat meja makan, horor deh. Mau mengajak mas Hendikus yang pandai main gitarpun tidak jadi, karena kata pak Anwar, mas Hendrikus akan bawa renungan diacara tersebut, saya urungkan, takut kualat hihihi.
Hingga akhirnya nama anak PPA yang itu-itu juga yang langsung masuk dalam target sasaran. Jadi final formasi dalam grup ini adalah Lisa yang akan menjadi ujung tombak sebagai Vocalis, Toro akan menyayat gitar, Inu akan membetot bass, Nando akan menyiksa kajon dengan menduduki dan menggebukinya , sedang saya akan memainkan licik-icik sambil menari, tapi belakangan saya urungkan karena saya tidak punya licik-icik dan saya takut di jewer pak Anwar jika aneh-aneh, akhirnya saya yang jadi Keyboardist.

Dan parahnya, diantara mereka yang saya pilih, saya hanya menghubungi Toro dan Inu untuk main bareng, sedang yang lain tidak saya kontak. Ceroboh..
Saya dan Toro sepakat secara lisan untuk bisa latihan bersama minimal sekali untuk mengenal lagu-lagu yang akan dibawakan. Dan hari Kamis atau Jumat kami sepakati.
Hari berganti hari, jam berganti jam, menit berganti menit, detik berganti detik, dan saya belum berganti menjadi Vidi Aldiano (lhoooo) Tapi ternyata semua diluar rencana yang saya dan Toro telah sepakati. Hari Kamis saya tidak bisa karena ada salah satu anak PPA yang sudah berpulang ke Rumah Bapa karena sakit DB (mari sejenak kita mengheningkan cipta selama 1 menit sebelum membaca kelanjutan cerita saya)
..............................................................................................................................................................................................................................................................................
 Sedari pagi saya dan bu Tika sudah dirumah duka, dan dari siang sampai sore saya dan rekan PPA yang lain ada diupacara kematian anak PPA tersebut. Sepulang dari acara itu saya merasa tidak enak badan, saya menduga ini karena adanya reaksi ketika saya kepanasan di TPU ditambah minum es buah di seberang jalan setelahnya. Gagal latihan
Hari Jumat, latihan kembali gagal. Siang itu BBM saya berbunyi dan si Toro nampaknya mulai panik karena kami belum persiapan sama sekali

“kak, latihannya kapan”

Saya tidak “R” BBM Toro, karena tidak tahu harus menjelaskan apa.
Sedari pagi saya dan bu Tika harus menghadiri pertemuan PPA Cluster Solo di Joyotakan. Fikir saya setelahnya saya bisa latihan dengan teman-teman, tapi gagal lagi. Saya jam 3 harus menghadiri upacara pemberkatan nikah teman PPA di GBIS Sambeng, dan sampai dirumah sudah cukup sore. Gagal latihan (lagi)

Saat itu Toro mungkin sedang gondok, si Inu sedang melihat HP nya dengan penuh harapan menunggu mendapat kabar konfirmasi latihan dari saya. Sedang Lisa dan Nando tidak tahu ancaman rasa malu yang akan mereka hadapi di acara tersebut.

Hal ini yang sebenarnya menjadi awal dari ke-grogian saya. Saya belum latihan dengan grup akustiknya. Semua jadi nampak horor, kekuatiran muncul. Benar jika saya juga main akustik di GKJ Jebres dan main akustik bersama #hashtag, tapi Ian bersama mereka latihan, dan ini tidak.
Saya jadi khawatir sendiri dan membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Bagaimana jika anggota grupnya tidak hadir semua? apakah akhirnya grup akustik fenomenal akan terbentuk? Saya, mas Hendrik, pak Anwar, dan pak Ari Basuki. Ahh, saya berharap agar grup ini tidak terbentuk. Kami nampaknya lebih cocok jadi BoyBand ala K-Pop dari pada grup akustik yang menjadi Home Band sebuah acara seperti ini.

Bagaimana kalau besok hujan? apa kami harus memakai jas hujan plastik Merk Gajah Duduk ketika main musik? atau Nanti pak Anwar harus memayungi kami berlima yang main musik ketika tampil? Tuhan jangan hujan

Bagaimana jika besok ada yang request lagu dadakan dalam acara tersebut dan kami tidak bisa? Apakah saya harus berpura-pura amnesia? Agar mereka tidak jadi request lagu?
Bagimana jika pak Anwar berubah menjadi Power Rangers merah yang doyan makan sate ayam? (iya-iya, yang ini bohong)

Sip, cukup jadi alasan yang pas untuk saya tidak bisa tidur tenang malam itu...

hatching, hatching, hatching

bukan, bukan saya yang bersin, ini suara ringtone sms di HP saya. Sekitar pukul 3 Sore pak Anwar sms saya

“dhe Ike sound’e wes tak toto, koe rene jam piro?”

“yo dhe, kosik aku jik nunggu omah, dilit ngkas aku mrono”

Saya berencana untuk datang di acara Nongkrong Bareng tersebut sekitar jam 4. Dalam fikiran saya, sesampainya jam 4 di sana, saya akan segera chek sound dan latihan sebentar dengan Lisa, Toro, Inu, dan Nando.

Tapi sms pak Anwar memaksa saya untuk datang lebih awal. Hingga saya tidak sempat untuk mandi terlebih dahulu dan hanya membawa sabun cuci muka. “Ah gampang, nanti tidak usah mandi, cuci muka saja” dalam hati

Selama perjalanan saya masih saja khawatir dengan acara nanti. Apalagi cuaca sore itu agak mendung gelap disertai angin kencang. Jika benar-benar hujan, saya khawatir nanti harus main musik sembari dibungkus jas hujan plastik.

Sampai di Gereja saya sempat takjub dengan yang saya lihat. Tenda kajang sudah berdiri dengan gagah dan tampak begitu kuat auranya. Sejujurnya saya mulai grogi.

“Pak nanti kita maen dimana pak?” tanya saya kepada pak Joko yang sedang menyapu halaman.

“Di sana mas” sembari menunjuk mini stage yang ada di dekat ayunan.

Saya mendekati mini stage yang tampak membuat saya kagum dalam hati. Dibawahnya dipasang lampu neon juga, sedang background putih dengan tanaman dalam pot susun pada kawat besi yang nampak gagah. Semakin saya senang ketika disegkitar mini stage ada daun-daun yang berserakan yang membuat suasana jadi semakin membuat saya bersemangat. Keren sekali
Sedang pak Joko malah membersihkan serakan daun yang berguguran itu (ya iya lah)

Saya langsung bergegas mencari komandan dari acara ini. “Dimana pak Anwar?” saya mencari dan tidak menemukan beliau. Di kantor? tidak ada, Di Gereja? tidak ada, DI ruang atas? tidak ada juga. Bahkan dibawah pot pak Anwar juga tidak ada (lagipula kenapa pak Anwar harus dibawah pot?) Belakangan saya mengetahui jika pak Anwar sedang mandi.

Saya bersegera mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk acara ini. Sound sudah dipersiapkan dan ditempatkan di samping kiri mini stage yang ada. Saya masih sibuk mondar-mandir ketika sadar jika pintu kantor dalam dalam keadaan terkunci rapat. Sedang bass dan kajon yang akan digunakan tertata manis didalam ruang yang terkunci rapat tersebut.

Segera saja saya menjadi panik. Kunci utama di bawa oleh Bapak Setyabudi dan kunci cadangan di bawa oleh Bapak Ari Kardono. Posisinya, pak Setyabudi belum datang dan pak Ari Kardono tidak ditempat. Pak Satpam juga tidak dititipi kunci tersebut. Sempat dalam hati ingin mendobrak pintu kantor tersebut dengan tangan gemulai saya tapi kemudian saya urungkan, karena takut di marahi pak Anwar. Alhasil saya menunggu.

Setelah beberapa saat akhirnya semua persiapan sudah dirasa sangat maksimal. Alat sudah lengkap, pemain sudah lengkap, dan makan malam sudah komplit.

Jemaat mulai berdatangan dan mulai duduk di atas tikar yang sudah dipersiapkan rekan-rekan panitia, beberapa jemaat duduk manis di atas ember lukis yang disulap menjadi kursi warna-warni nan cantik.
Thomas tampak begitu grogi dengan tanggungjawabnya sebagai MC di acara tersebut, sedang saya hanya terus berusaha meyakinkan dia bahwa dia pasti bisa untuk melaksanakan tugas ini dengan baik. Dia tetap saja grogi

Lagu pertama mulai kami mainkan. Harus diakui, Toro, Nando, Lisa, dan Inu terlahat canggung juga untuk menikmati bagian mereka ini. Walau secara skill musik, saya harus berani angkat topi untuk mereka. (karena saya tidak memakai topi, yang saya angkat topinya pak Anwar).

Acara berlangsung dengan baik. Ada sukacita yang dinikmati oleh semua yang hadir dalam acara itu. Semua tercampur menjadi satu, antara kebingungan Thomas karena tidak bisa menyanyikan lagu Theme Song, antara wajah Nando yang cerlang cemerlang terkena lampu neon, antara keceriaan lomba tebak profesi dari pak Anwar dkk, antara bu Agnes dkk yang mengajak kita senam goyang, antara ibu-ibu yang menjaga makanan yang sudah disiapkan, antara penyanyi solo dadakan yang membuat pemusik kelabakan, sampai antara fotografer yang mondar-mandir mengambil gambar dari momen kegiatan yang berlangsung.

Semua berlangsung dengan begitu menyenangkan.

Sedang saya? sejujurnya juga saya cukup tertekan dan khawatir dengan banyak hal dalam acara ini. Mulai dari hujan, khawatir pemusik tidak datang, takut tidak berkenan yang saya lakukan, takut tiba-tiba saya jadi ganteng (lhoo)

Harus diakui, rasanya lebih horor daripada waktu main di Jebres atau waktu main bareng #hashtag. Dan lebih dari itu semua, saya belajar bahwa dalam kemungkinan dan kesempatan apapun, persiapan yang matang harus saya lakukan agar apa yang sudah saya rencanakan bisa saya kerjakan dengan sangat baik

Tapi syukur, suasana yang begitu hangat membuat saya bisa lebih tenang dan fokus untuk tanggung jawab ini.

Dan satu lagi, saya merasa ada mata yang terus mengawasi dan mengamati saya sepanjang acara, dan itu yang membuat saya nyaman. Terimakasih ya....

Waktu begitu cepat berlalu, hingga tiba-tiba saya sudah berada di atas tempat tidur dan melihat layar laptop sedang jemariku masih membariskan tiap huruf untuk menjadi rapi menjadi kalimat-kalimat jujur dalam tulisan ini, tentang apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan.

O iya, selama acara berlangsung, saya tidak jadi mandi


Alas tidur 23:25
Sabtu 18102014

(nb: dari dalam hati, saya dengan tulus meminta maaf jika ada yang tidak berkenan atas tulisan saya ini dan saya mengucapkan terima kasih untuk setiap nama yang boleh dengan asli saya sebutkan pada tulisan saya.

Saya menuliskan semua dari sisi yang saya rasakan dan imajinasi yang ada dalam kepala saya. Semoga berkenan)
Read More >>

Sabtu, 28 September 2013

Realita CINTA dan PELAYANAN pada REMAJA (part 2)

rsrsdr Sekarang apa yang sedang kita rasakan? Seusia sekarang, saya sedikit banyak yakin bahwa kita mulai (pasti) bertanya tentang pasangan hidup kita kelak. Benarkah? Secara tidak sadar kita akan melakukan diskriminasi yang sangat lembut dengan memberikan perhatian yang berbeda antara satu rekan dengan rekan yang lain. Tenang saja, ini bukan gambaran penghakiman yang akan membuat kita berdosa. Ini hanya proses alami yang memang akan terjadi jika kita tengah mengalami jatuh cinta.

Jika saya boleh mencoba memaparkannya, maka yang terjadi seringnya adalah seperti ini

1. Cari....

Ini keadaan yang paling logis terjadi. Ketika sedang menaruh perhatian yang lebih pada salah seorang teman, kita cenderungng terdorong untuk menjadi seseorang dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi tentang dirinya. Hal umum yang sering kita ketahui adalah, sekarang dia sedang apa, lagi dimana, dan satu pertanyaan basi yang paling legendaris “kamu sudah maem?”

Segala sesuatu tentang dia menjadi sangat penting, bahkan kita akan terbiasa mulai mendramatisir semua tentang dia. Contohnya ketika si dia tidak dengan segera membalas sms kita, maka kita cenderung langsung berfikiran yang Parno dan aneh-aneh, mungkin dia ketiduran, mungkin dia sedang pergi dengan temannya, atau jangan-jangan dengan temen spesialnya? Atau dia sedang disandera penculik? Mungkin rumahnya kerampokan? Jangan-jangan dia tadi dimakan Anaconda? –mulai ngawur­- namun pada sisi lain, jika dia bisa membalas smes kita dengan cepat dan nyambung, ehmmm, rasanya gimana itu, membuat kita jadi dengan tulus tersenyum sendiri.

2. Salting

Salting merupakan sebuah reaksi minor dari stimulus semu yang membuat penderita jadi berlaku aneh dan tidak wajar atas tingkah lakunya sendiri. Kondisi ini didorong oleh ketidaktahuan atau ketidakpastian dari kebenaran kenyataan yang ada. Hal ini sering menjangkiti seseorang yang tengah jatuh cinta.

Semua yang dilakukan oleh orang yang kita cintai akan menjadi stimulus semu yang membingungkan kita untuk bertindak normal. Perasaan jadi sering menebak-nebak tentang apa maksud yang dilakukan oleh si dia. Contohnya jika tiba-tiba dia mengedipkan mata ketika memandang kita, maka biasanya kita mengira dia menggoda kita, padahal sesungguhnya matanya kelilipan. Ketika dia tersenyum kepada kita, kita mengira dia mengirim sinyal cinta, padahal dia tidak bermaksud apa-apa. Jika tiba-tiba dia menepuk pundak kita dari belakang, maka kita merasa bergetar dan tiba-tiba jadi aneh, padahal itu karena dari tadi kita dipanggil tidak mendengar sehingga dia merasa perlu untuk menepuk pundak kita.

Ada banyak lagi tentu kasus saling yang sering kita lihat dan kita alami, hanya jika ingin lebih detail, maka bertanyalah pada dirimu sendiri J

3. Super Perhartian

Jika ada perubahan yang tiba-tiba, itu adalah ketika racun cinta membuat kita jadi sangat perhatian kepada dia. ada batas logis yang sering kali kita acuhkan dan lebih mengutamakan keadaan yang menyangkut tentang dia, padahal kadang kita yang lebih membutuhkan daripada dia. Contohnya, jika sedang pergi dengan teman yang lain dan kemudian turun hujan, dan jika kebetulan kita membawa jas hujan, maka bukankah kita berfikir jika jas hujan itu lebih baik dia yang memakainya? Padahal kemarin kita habis “masuk angin”. Jika kita lagi jajan bareng untuk beli minuman ketika cuaca sangat panas, bukankah jika kita juga berfikir untuk membelikan dia? padahal kadang kita tidak punya banyak uang. Jika dia sedang dalam kegiatan yang padat dan pulang terlalu sore, kita selalu minta dia untuk segera mandi karena keburu dingin, padahal kita sendiri juga belum mandi. Ketika sudah malam, kita meminta dia untuk segera belajar, padahal kita sendiri terus membaca ulang sms dari dia tadi siang.

Perhatian ini muncul secara otomatis ketika kita sedang jatuh cinta. Muncul karena naluri semata yang berusaha memastikan bahwa dia baik-baik saja diikuti dengan cara mengacuhkan semua hal yang sebenarnya lebih penting dalam dirinya sendiri. Ahh indahnya jika kita sedang berada dalam fase ini

4. Kelemahan --- Kekuatan

Ini adalah bagian akhir dari perubahan sikap atau pandangan yang biasanya dialami oleh mereka yang tengah jatuh cinta. Ini hal yang sangat baik, karena kita akan belajar menjadi lebih baik dari semua sikap kehidupan yang kita miliki sebelumnya. Bagian ini menyentuh dua sisi besar tapi dilihat dari satu sudut yang sama (yaitu diri kita). Yaitu

a. Untuk diri sendiri

Ini merupakan perubahan diri yang tiba-tiba menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera kita penuhi. Maksudnya adalah kita akan berusaha mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik agar kita bisa menarik perhatian si dia. Kita akan beranjak jauh dari kebiasaan lama kita dan mencoba membentuk kebiasaan baru. Contohnya saja, seseorang tidak pernah menggunakan parfum ketika main tapi karena demi idamannya, dia akan menggunakan parfum. Seseorang yang tadinya jarang mandi, tiba-tiba menjadi rajin mandi sejumlah batas wajar atau selebihnya (normal 2x sehari, bahkan bisa 4x sehari) karena ingin tampil cakep didepan idolanya. Intinya, kita akan berubah untuk menjadikan diri lebih baik dan baik lagi hingga akhirnya mampu menarik perhatian si dia.

Kita akan membuka diri dengan banyak hal baru, hal yang sering kali tak masuk akal dan tak mungkin kita lakukan, tapi kenyataannya kekuatan cinta mampu membuat kita melakukan itu semua. Setiap hari selalu ada dia yang menjadi semangat untuk kembali berusaha menjadi lebih baik. Apalagi jika dapat ucapan selamat pagi dari si dia, tentu kita akan semakin bersemangat lagi untuk kembali berjuang.

b. Untuk si dia

Ini merupakan sisi lain dari energi positif cinta yang kita dapatkan. Sudah kita ketahui betapa cinta mampu membuat diri kita mengusahakan perubahan yang baik. Energi ini yang kemudian mendorong kita untuk memiliki kecenderungan pola fikir yang selalu berusaha melihat semua yang ada dalam diri si dia sebagai hal yang baik.

Mungkin dia seorang yang malas, mungkin dia seorang yang jarang mandi, mungkin dia orang yang tidak pandai, dan sebagainya. Percayalah, semua itu tidak akan pernah nampak menjadi masalah yang sangat serius bagi kita. Semua akan terlihat biasa saja dan itu semua bukan hal yang mengganggu. Benar? Kita akan terlatih untuk memiliki hati yang baik dengan mencoba menerima apa adanya tanpa syarat apapun, jelas ini adalah hal yang sangat baik.

Tapi kemudian kita bisa terancam dengan ini, jika tidak dengan bijak kita mengelola perasaan ini maka kita akan terancam semakin melukai diri kita sendiri. Seringkali kita jadi membabi buta dengan dirinya, sehingga kita bisa tertular hal yang menjadi sifat buruk dari si dia. Maka kita perlu bijak mengelola fase ini.

Antara Cinta dan Pelayanan

Pada bagian ini kita hanya akan melihat gambaran sederhana tentang kemungkinan logis apa yang sering terjadi dalam dunia pelayanan jika sudah ada cinta didalamnya.

Memang, pada dasarnya kita haruslah melihat diri kita sendiri. Maksudnya, kita harus bertanya kepada diri kita apakah kita sudah benar-benar siap untuk jatuh cinta atau belum siap. Karena dengan jatuh cinta dalam persekutuan, hanya akan ada 2 kemungkinan yang kita miliki

1. Semakin Kuat

Gejala jatuh cinta yang ada akan membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik. Seperti yang sudah dijelaskan, kita tentu akan berjuang mati-matian agar dapat menjadi lebih baik. Tentu hal ini menjadi daya yang sangat baik dan positif. Dengan senang hati kita akan datang lebih awal dalam persekutuan untuk membantu rekan yang piket menyiapkan perlengkapan persekutuan, dan kita akan bahagia untuk pulang paling akhir dan merapikan semua perlengkapan setelah selesai persekutuan.

Karena dia, dalam kondisi lelahpun kita pasti akan meyakinkan diri bahwa kita masih kuat untuk terus berkegiatan. Kita akan menutup kesempatan diri untuk mengeluh dan menyerah dalam pelayanan yang kita lakukan. Pada kondisi lain, mungkin tiba-tiba kita akan jadi rajin membaca Alkitab, Sate, bahkan berani memberikan pendapat didepan rekan lain ketika persekutuan berlangsung. Hari lepas hari kita akan terus termotivasi untuk menjadi hebat dalam pelayanan dan kegiatan kita digereja.

Kenyataannya, dia membantu kita menemukan semangat diri kita untuk berubah menjadi anak yang lebih rajin, baik, dan dewasa.

2. Semakin Loyo

Pelayanan memerlukan banyak stimulus baik agar dapat dijalani dengan sukacita. Inilah mengapa kita perlu sekali menjaga iklim yang kondusif diantara rekan pelayanan kita. Jika suasana baik, maka kita juga bisa menikmati pelayanan kita.

Situasi sulit sering dihadapi oleh remaja yang tengah jatuh cinta, tapi dia malah terjebak pada situasi yang merugikan dia. Maksudnya, kita akan sering tidak dalam kondisi emosi yang baik dengan pelayanan kita jika kondisi cinta kita tidak sedang stabil. Bisa saja karena sedang arahan dengan si dia, kita jadi ogah – ogahan untuk pelayanan. Mood kita tiba-tiba bisa jadi anjlok karena tidak nyaman. Gerakan choir jadi kacau, chord gitar jadi lupa semua, jadi pembawa acara permainan juga jadi jutek. Bukankah ini sangat merugikan?

Lantas bagaimana?

Ini menjadi pertanyaan kebutuhan yang harus segera kita jawab karena mungkin ini menjadi sesuatu yang mengancam pelayanan kita jika tidak segera kita sikapi dengan baik. Pada akhirnya yang akan menjadi pilihan adalah kita dituntut untuk dengan serius apakah kita memang benar-benar sudah siap untuk jatuh cinta. Memang benar, sering kali cinta datang tanpa pernah mengenal situasi dan waktu, tapi pada akhirnya bukankah kita memiliki pilahan yang mutlak untuk menyikapi perasaan tersebut? Jika toh memang belum siap, untuk apa kita memaksakan diri untuk sesuatu yang kita tahu pasti akan merugikan diri kita sendiri? Tapi jika merasa siap, kita juga harus memegang komit untuk siap juga menghadapi segala kemungkinan yang muncul dari rasa cinta yang kita hidupi, risih, sakit hati, penolakan, dsb, kita harus siap untuk hal tersebut.

Kemudian, yang menjadi jawaban paling utama dari kemungkinan tiap resiko adalah “pembenaran motivasi” awal. Motivasi awal akan menjadi penentu dari sikap kita. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apa motivasi kita ketika kita memutuskan untuk ambil bagian dalam pelayanan? Apakah karena murni talenta? Dorongan pacar? Terpaksa? Atau karena memang benar-benar kita membangun dasar pelayanan kita pada Kristus?

Jadi jangan heran jika kita akan menjadi marah dan loyo ketika kita mendapati masalah dalam pelayanan kita (soal hati-red) karena ternyata dasar pelayanan yang kita miliki adalah salah. Tapi disisi lain, sekeras apapun masalah atau problem yang ada, tentu tidak akan mempengaruhi pelayanan kita jika kita membangun diatas dasar yang tepat, yakni pada Kristus. (1 Kor 3 : 10 – 23)

Baiklah sekarang kita memiliki waktu yang cukup untuk melihat semua kejadian dari banyak sisi, agar kita menjadi bijaksana dan siap menjadi dewasa atas segala tindakan apapun yang kita lakukan. Pelayanan yang kuat adalah pelayanan yang muncul atas dasar rasa ucapan syukur kita kepada Allah yang hidup, karena DIA memberikan kasih yang sempurna kepada orang berdosa seperti kita.

Jadi mari belajar untuk tidak terus-menerus menjadi seseorang yang mudah patah semangat. Teruslah belajar dari peristiwa kehidupanmu, belajar dari rasa sakit juga belajar dari rasa bahagia. Dan biarlah kiranya kasih Allah senantiasa menyertai pelayanan kita. Amin

Read More >>

Senin, 09 September 2013

ada ALKITAB di jalanan, maka BERSYUKURLAH…..

sdsd Terbangun dari tempat tidur, bergegas dan langsung menuju ke KM untuk mandi. Hari ini bangun sedikit kesiangan, sisa rasa capek tadi malam masih sangat terasa. Setelah Saat Teduh, biasanya saya selalu menyempatkan untuk membuka Laptop dan otak-atik, tapi pagi ini tidak, saya memilih untuk merebahkan diri di suduk tempat tidur dengan sarung dari bapak yang saya gunakan untuk selimut. Dan saya tertidur….

Jadwal hari ini sudah tersusun dengan cukup rapi. Jam 09.00 – 10.00 bertugas jadi Keyboardist Ibadah Siang di GKJ Jebres. Sesaatnya ada sekitar 30 menit untuk beristirahat karena jam 10.30. – 12.00 harus kembali memberi les gitar bagi beberapa remaja PRKJ yang rindu belajar bermain musik. Setelahnya di ajak temen untuk berbelanja beberpa keperluan.

Les Gitar

Hari ini yang datang les gitar lumayan banyak, 12 anak. seperti biasa setelah doa kelas langsung dibagi menjadi 2, kelas kecil dan besar. Kelas kecil mendapat materi untuk membiasakan pindah chord, masih seputar pada G – Em – C – D. Sedang murid kelas besar harus digenjot dengan materi minggu lalu dan harus melahap materi melodi yang lumayan sulit. Perbedaan ini yang harus membuat saya wira-wiri ke masing-masing ruang. Melelahkan, tapi saya hanya berusaha menjadi mentor yang baik bagi mereka. Nice, kebingungan mereka, semangat mereka, keluguan mereka, yang semakin membuat saya yakin untuk terus setia menemani mereka belajar gitar.

Belanja dan Makan Siang

Sejenak dirumah dan segera berangkat lagi untuk belanja. Tinggal nunggu dijemput, dan langsung berangkat. Kami mencari beberapa keperluan untuk perbaikan handphone kami. tidak terlalu lama karena kami hanya mencari yang kami butuhkan, membeli, dan langsung pulang. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk mencari makan siang, karena memang kami sangat kelaparan saat itu. Bakso menjadi pilihan kami. Dan ketika tiba dirumah makan kami akhirnya memesan lebih banyak, bakso, es campur, dan segelas es teh. Dengan lahap kami berdua makan, walau sejujurnya perut seolah berontak karena kami sudah kenyang.

Bergegas kami pulang, karena memang sudah sore dan saya sudah sangat kecapean. sepanjang jalan pulang kami hanya banyak berbicara yang terkadang omong kosong atau sekedar hanya bercanda. Hingga akhirnya pada salah satu perempatan jalan raya ada kejadian luar biasa yang menggetarkan hati saya, iya benar, menggetarkan hati saya

Sejenak sebelum kami harus berhenti karena lampu merah, secara tidak sengaja saya menoleh di kiri, dan apa yang saya lihat adalah hal yang hebat. Di salah satu emperan toko yang tutup, saya melihat seorang ibu dengan tenang SEDANG MEMBACA ALKITAB. Sempat ragu, tapi jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya yakin bahwa saya tidak salah melihat jika yang sedang dibacanya adalah ALKITAB. hati saya benar-benar bergetar.

Seolah dia tidak memperdulikan lalu lalang jalanan yang cukup terik dan sangat bising. Bibirnya terus bergerak seperti tengah membaca sesuatu. Ahh, sungguh indah Tuhan. Belum hilang rasa kagum saya, saya kembali dibuat bergetar dengan ibu itu, ketika dengan tulus ia memijit kaki seorang lelaki tua yang tertidur disebelahnya, saya tidak bisa memastikan tapi saya menduga lelaki itu adalah suaminya. Berharap bisa membagi berkat, saya kemudian memberi tahu kepada teman saya, dan dia juga nampak sangat terkagum dengan apa yang kami lihat. TUHAN ENGKAU SANGAT LUAR BIASA

Pemandangan sangat indah yang hanya bisa saya nikmati selama 60 detik saja dan kami pun berlalu

Sore ini saya belajar banyak hal, ada beberapa hal yang terus saya pergumulkan dan renungkan dalam hati saya…..

1. Membaca Alkitab, jelas bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan saya. Alkitab tidak pernah lepas dari keseharian saya. Minimal saya akan membaca Alkitab ketika pagi saya saat teduh serta saya masih berusaha rutin untuk bisa bible reading tiap malam sebelum tidur. Sedang pada kegiatan yang lain tentu itu bisa bertambah. Saya sudah cukup dekat dengan Alkitab kan?? TAPI TUNGGU DULU seolah hal itu runtuh begitu saja ketika melihat ibu itu, Saya membaca Alkitab pada kondisi “save”, semua terkendali dengan sangat baik, tenang, teduh, sepi, dan pada waktu yang sangat mendukung. Tapi yang dilakukan ibu itu dengan gagah “mempecundangi” pemahaman saya. Tentu bukan soal intensitas atau usaha dalam memahami isi Firman yang sama-sama kami baca tapi yang jelas ibu itu lebih berani, lebih tangguh, dan lebih hebat. Ibu itu menghadapi tantangan yang lebih besar daripada yang saya hadapi. Lalu-lalang pejalan kaki tak di gubrisnya, bising klakson kendaraan tak menghalanginya, terik sinar matahari tak mengalahkanya, bahkan tatap pandangan mata dari orang yang melihatnya tidak mampu memupuskan keinginannya untuk membaca Alkitab tersebut.

2. Ini hal yang sangat penting yang sempat menjadi bahan diskusi saya dan teman saya. Hal itu adalah, MENGAPA IBU ITU HARUS SEPERTI ITU?, bukankah dia orang baik? bukankah dia orang yang takut akan Tuhan? bukankah dia orang yang setia? lantas mengapa ibu itu harus hidup dijalanan yang begitu keras dan bahkan mungkin ibu itu tidak memiliki rumah untuk dia berteduh.

Jika menjawab itu hanya karena nasib, maka selesai sudah pertanyaan diatas. Tapi dalam kediaman saya, saya mengetahui banyak hal yang luar biasa.

Tapi tentu ada hal lain yang saya maknai ulang, tentang keberadaan ibu itu. Tentu saja dan saya percaya, ibu itu juga tengah membawa pesan khusus dari DIA yang harus disampaikan kepada SAYA.

Siang itu menjadi satu moment dimana Tuhan kembali mengingatkan saya tentang arti dari sebuah ungkapan syukur yang tulus. Ibu itu mengajari saya untuk menikmati kehidupan dari sisi yang lebih mulia, menghitung dan merenda tiap berkat yang Tuhan beri menjadi satu pola kehidupan yang baik. Siang itu dimana dengan nyaman saya bisa bangun pagi, saya bisa bertugas musik ibadah, saya bisa memberi les gitar, saya bisa belanja, dan bahkan saya bisa makan dengan lebih, tapi kenyataannya yang sering terjadi adalah saya lupa untuk bersyukur. Kesempatan yang mungkin tidak bernah akan ibu itu miliki, bahkan untuk memikirkannyapun tidak. Tapi yang ibu lakukan itu telah mengajari saya untuk terus bersyukur tiap hari dan tanpa henti

Terima kasih tuhan atas pelajaran yang telah Engkau berikan kepadaku melalui ibu itu…..

Read More >>

Jumat, 30 Agustus 2013

Jangan Mau Terlahir Sebegai Perempuan Indonesia

Ada hal yang sangat mengusik hati saya. Mungkin saja bukan hal yang penting, tapi jelas hal ini membuat saya risau. Dan lagi, ini tentang perampasan hak hidup bagi golongan tertentu. Kerisauan saya muncul setelah saya melihat berita di Televisi tentang tes keperawanan yang bakal direncanakan Dinas Pendidikan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Saya langsung berfikir, hal gila apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Dengan seksama saya mengamati liputan tersebut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Alasan yang diangkat adalah fenomena praktik prostitusi dikalangan remaja putri. Begitu banyaknya remaja putri yang tidak lagi Virgin dirasa akan semakin mengancam diri mereka sendiri dan masa depan mereka. Ini yang tidak bisa ditolerir.

Dengan tegas saya memilih untuk skeptis dengan rencana ini. Mengapa harus ada rencana “gila” seperti itu? Bukankah ini satu hal yang konyol untuk bisa dijalankan dengan baik? Namun tetap saja berita ini menjadi wacana yang cukup unik yang pasti memunculkan banyak respons dan tanggapan serta tentu saja akan menuai pro dan kontra.

Beberapa siswi mengungkapkan pendapat mereka, bahwa mereka setuju dengan rencana ini. Mereka merasa ini sangat perlu untuk menjaga para remaja putri dari dunia prostitusi dini yang mengancam mereka. Siswi yang lain dengan “gagah” menjawab “jika mereka memang masih perawan, seharusnya mereka tidak perlu takut dengan tes yang akan diadakan ini” Sedang bagi mereka yang menolak usulan ini menyatakan bahwa hal ini akan semakin membatasi kesempatan belajar bagi semua anak Indonesia.

Saya diam sejenak, berfikir, dan melihat kembali dari sisi yang lain
Iya benar, mungkin tes seperti ini memang perlu untuk dilakukan. Saat lingkungan sosial tak bisa lagi membendung budaya prostitusi dini, mungkin “ancaman” ini akan membuat anak berfikir lebih lagi untuk tidak menjaga keperawanan mereka. Pada sisi lain, pastilah orang tua juga terbantu dalam usahanya untuk menjaga masa depan putri mereka. Pada skala yang lebih besar, usaha ini akan sangat efektif untuk menekan angka kejahatan tindak prostitusi yang sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan. Sangat membantu

Namun pada sisi lain ternyata hal ini tidak sepenuhnya membantu. Ada banyak faktor yang seharusnya diperhatikan lebih dulu, mengapa praktik seperti ini bisa berkembang dan cenderung mengancam. Dan ternyata saya menemukan banyak sisi dimana tidak semuanya kasus ini dilatar belakangi oleh kenakalan remaja saja, berikut beberapa hal tersebut

1.    Kondisi Ekonomi
Faktor ini yang mungkin paling umum yang bisa dijadikan alibi, bahwa kadang mereka terjebak dalam usaha pemenuhan kebutuhan kehidupan yang lain. Sedang kenyataannya mereka tidak memiliki daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Biaya sekolah, biaya kontrak rumah, biaya makan, bahkan mungkin orang tua yang sakit. Sehingga para remaja unti seolah dipaksa oleh keadaan untuk menjajakan diri mereka, karena kebutuhan kehidupan yang mendesak yang semakin menghimpit mereka. Salahkah jika mereka melakukan ini?

2.    Perhatian Orang Tua
Kita tentu tidak mungkin mengesampingkan bagaimana seharusnya peran orang tua dalam menjaga masa perkembangan remaja putri mereka. Usia remaja adalah masa pencarian jati diri mereka. Pada tahap ini tentu saja mereka membutuhkan figur yang sangat fundamental untuk mereka jadikan sebagai idola. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah, sudahkan orang tua menjadi contah yang baik bagi anaknya? Atau  sudahkah orang tua menjadi pendamping yang baik bagi anaknya menjalani proses pencarian jati dirinya? Dan apakah orang tua sudah melakukan usaha menjaga anaknya? Ingat, tidak semua remaja putri yang jatuh pada kasus ini berasal dari keluarga yang tidak mampu. Salahkah jika mereka melakukan ini?

3.    SEKOLAH???
Faktor ini yang membuat saya bergetar ketika menuliskannya. Coba fikirkan pertanyaan ini  dari mana mereka mulai mengenal dunia prostitusi? SEKOLAH. Siapa yang membujuk dan mengajak mereka dengan iming-iming untuk mengenal dunia prostitusi? TEMAN SEKOLAH. Bukankah seharusnya sekolah menjadi tempat untuk mereka memiliki nilai-nilai moral yang baik? Entahlah

Perlu banyak hal yang harus dikaji dengan seksama sebelumnya untuk menjadikan usulan ini menjadi keputusan. Tentu tidaklah bisa dengan semen-mena, karena bisa saja efek yang ditimbulkan menjadi semakin parah . Lepas dari kepentingan-kepentingan yang mungkin ada didalamnya, kita perlu menjadi bijak.

Jika benar menjadi keputusan. Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah “terlanjur” tidak lagi perawan? Haruskah mereka dikeluarkan? Padahal dengan mereka keluar, maka kesempatan mereka untuk belajar akan hilang dan tentu saja ini lebih mengancam masa depan anak. Bahkan mungkin juga hal ini akan semakin membuat mereka jatuh lebih dalam pada kejahatan ini karena mereka sudah tidak lagi bisa melanjutkan pendidikannya. Pada sisi yang lebih dalam, akan timbul kebencian yang semakin mendalam pada anak untuk terus menyalahkan diri mereka sendiri atas keperawanan yang sudah tidak lagi mereka miliki.

Lantas? Apa peran guru BK disekolah? Apakah hanya menyelesaikan urusan anak yang merokok saja? Yang berkelahi saja? Tentu tidak kan?
Bukankah ini jadi penghakiman sosial yang lebih menyakitkan bagi mereka?
Terasa sangat sulit dan menyakitkan, logikanya, dalam kondisi normal saja banyak anak yang tidak bersekolah, apalagi jika wacana ini menjadi sebuah keputusan, terbayang banyak yang putus sekolah dan menjadi PSK belia
Dalam hati saya berharap, agar hal ini tidak menjadikan bangsa Indonesia kembali pada tradisi dulu Diana hak wanita dibatasi dan dikekang sedemikian rupa. Entahlah, mungkin ini hanya yang terfikirkan oleh saya pada saat ini.
Berharaplah agar terlahir sebagai laki-laki di negeri ini jika ini menjadi sebuah putusan

Saya adalah seorang LAKI-LAKI, tapi saya menolak wacana ini. Jika memang FAIR, lakukan juga Test “keperjakaan” pada setiap siswa putra. Beranikah??

Read More >>

Selasa, 13 Agustus 2013

Pilihan Hidupku di NUSAKAMBANGAN



PILIHAN HIDUP
sangat menyenangkan ketika ada sedikit waktu untuk berdiam, terlebih ketika ada kesempatan untuk melihat kembali peristiwa pada masa lampau yang telah terlewatkan. kita dituntun untuk melihat lebih jauh tentang peristiwa tersebut dan kita harus belajar daripadanya. Kenyataan yang tidak bisa kita hindari adalah bahwa apa yang sekarang kita miliki, apa yang sekarang terjadi pada kita adalah konsekuensi logis atas pilihan-pilihan tindakan kita di masa lampau. contoh sederhana yang dapat kita lihat, pagi ini saya sangat mengantuk karena semalam saya memilih untuk menonton film hingga larut, saya dimarahi guru karena kemarin saya tidak belajar sehingga nilai ulangan saya sangat buruk. Jika kita memahami hal ini, bukankah seharusnya kita semakin bijak untuk memilih pilihan baik sekarang agar dimasa yang akan datang kita tidak mengalami hal yang merugikan?

Konsep ini yang menjadi latar belakang dari PPA IO 998 Berea GKI Sorogenen mengajak Anak usia 15-22th untuk melakukan kunjungan ke Nusakambangan. tempat legendaris bagi dunia narapidana di Indonesia, dimana tempat itu dilihat dipandang sebagai upaya akhir dari usaha permasyarakatan para pesakitan agar dapat kembali diterima di lingkungannya lagi. LP dengan standar keamanan tinggi bagi narapidana kelas kakap. tempat yang sangat terisolir dan terdengar sangat menyeramkan.

Tentu membutuhkan ide kreatif dan keberanian yang cukup bagi kami untuk mengajukan program ini. Hal ini berangkat dari pemahaman kami bahwa anak-anak perlu mendapatkan pelajaran mengenai Pilihan Hidup dalam perkembangannya, pemberian materi dalam kelas sudah kami berikan tapi kami merasa kegiatan ini akan sangat memperlengkapi pemahaman dan konsep anak mengenai Pilihan Hidup bagi dirinya sendiri.

Dan hari itu kami berangkat....

Senin, 24 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Semua rekan dan anak-anak sudah terlihat cukup riuh di halaman gereja, mereka sudah siap untuk berangkat dan mereka sangat antusias. Beberapa anak tampak sudah bersiap dengan tas ransel dan jaket tebalnya, sedang terlihat anak perempuan lebih ribet lagi dengan banyak barang bawaannya, untuk hal ini kita harus maklum :). Kami naik bus untuk segera melakukan perjalanan yang sangat panjang dan cukup melelahkan. Saya sendiri berharap bisa tidur selama perjalanan, begitupun yang saya harapkan agar anak-anak bisa tertidur sehingga esok hari bisa menikmati perjalanan dan kunjungan mereka ke Nusakambangan. Tapi tentu saja saya salah, anak-anak terlihat asik dan cukup riuh, hingga perlu beberapa kali diberikan nasehat agar lekas tidur. Sekitar pukul 12 malam suasana dalam bus sudah benar-benar hening.

Selasa, 25 Juni 2013 pukul 05:00 WIB
Kami sampai di tempat pemberhentian, ditempat ini kami dijadwalkan untuk mandi dan sarapan, sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Beberapa anak masih memilih untuk tidur sedang beberapa anak yang lain sudah mulai bersiap dengan gaduh untuk mandi pagi. Sekitar pukul 07:00 WIB kami makan pagi dan tepat pukul 08:00 WIB kami melanjutkan perjalanan kembali. Saya berharap ini tidak menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan serta berharap agar segera sampai ke pulau Nusakambagnan.

Selasa, 25 Juni 2013 pukul 09:00 WIB
Melegakan rasanya, ketika tiba-tiba saya terbangun karena bus kami berhenti. Kami sudah sampai di dermaga untuk menyeberang ke Nusakambangan. kami sibuk bersiap untuk turun sedang dari biro bus yang kami pakai sibuk mengurus perijinan. Serentak semua turun dari bus dan bersiap mengunjungi pulau legendaris itu. Yang saya fikirkan pada waktu itu itu adalah, saya akan masuk pada wilayah yang sangat menyeramkan, penuh dengan narapidana, penuh dengan polisi, mungkin juga ada banyak narapidana yang sedang bekerja disana (mungkin saja anak-anak juga berfikir demikian). Tapi waktu penyeberangan kami sedikit tertunda, entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sekilas saya mendapat informasi bahwa sedang ada keluarga  yang tengah membesuk narapidana, ada juga yang berujar bahwa kapal yang membawa kita menyeberang sudah penuh, sehingga kami harus menunggu terlebih dahulu. Setelah sekitar 1 jam menunggu, akhirnya giliran kami untuk naik perahu penyeberangan datang. Kami semua langsung naik ke perahu tersebut, terlihat kami berbarengan dengan beberapa penduduk lokal yang menyuplai bahan makanan dan beberapa petugas dari pelabuhan.

Kami di Nusakambangan
Perjalanan yang kami tempuh untuk menyeberangi nusakambangan tidaklah terlalu lama, mungkin hanya sekitar 15-20 menit saja. Dan akhirnya kami menginjakkan kaki di Nusakambangan. Sampai disana, rombongan dari 998 dipecah menjadi 2 bus kecil yang hanya muat sekitar 20an penumpang saja. Mau tidak mau kami harus membagi rombongan juga, hanya itu akses yang bisa kita dapatkan untuk melakukan perjalanan ke Nusakambangan.

Secara khusus, tidak ada guide yang membantu kami dengan menjelaskan bagian-bagian apa saja yang ada di Nusakambangan tersebut. Bersyukur karena mini bus yang saya tumpangi memiliki sopir yang ramah yang dengan tidak segan menjawab pertanyan dari salah satu Mentor yang duduk dibelakang meja kursi. Secara tidak langsung pak sopir ini telah menjadi guide kami, pak sopir itu bercerita panjang lebar mengenai Nusakambangan, terlebih tentang macam-macam penjara yang ada disana. Pada mulanya saya berfikir bahwa di Nusakambangan ini hanya memiliki 1 Rumah Tahanan yang sangat besar, ketat, menyeramkan, dan terletak di tengah pulau Nusakambangan, tapi ternyata tidak, ada beberapa penjara disini yang disesuikan dengan kasus serta masa hukum narapidananya

Sembari terus melakukan perjalanan, saya hanya melihat kiri kanan daerah tersebut yang masih hutan belantara, sopir juga berujar jika malam hari suasana menjadi sangat menyeramkan, lampu penerangan jalan yang sangat minim dan hewan buas yang masih berkeliaran di daerah tersebut. Memang harus saya akui, yang saya lihat bukanlah pemandangan yang menyenangkan, beberapa rumah yang ada disana terlihat sangat kotor dan tidak terawat, bahkan beberapa rumah mungkin tanpa penghuni. Tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada satu bangunan, tidak terlalu besar tapi terlihat cukup terawat yauit sebuah Gereja, pada bagian atas pintu tertulis Gereja Nusakambangan, dalam hati ingin sekali rasanya bisa masuk, semoga suatu saat ada kesempatan.

Sesekali bus kami melambat ketika kami berhenti pada satu rumah tahanan ke rumah tahanan yang lain. Kami masih cukup tenang mendengarkan penjelasan dari sopir kami. Ditunjukan Rumah Tahanan yang dulu menjadi LP bagi Tommy Soeharto. Lantas kami melanjutkan perjalanan ke LP-LP selanjutnya. Saya begitu tertarik dengan bangunan tua disebelah kiri bus kami, bangunan yang saya yakin sudah tidak dipakai lagi. Bangunan setinggi 2 meter berbentuk persegi yang hanya tersusun dari batu bata usang, dalah hati saya bertanya, ini bangunan apa? dan beruntung, sesaat setelah itu dijelaskan bahwa pada masa penjajahan, bangunan itu digunakan untuk memenjarakan narapidana yang terkena sakit kusta, semuanya, tanpa memandang latar belakang kasus dan berapa lama hukuman yang dijatuhkan padanya, bahkan konon akhirnya tidak ada yang bisa keluar karena mereka ditahan hingga mati tanpa ada hak bebas walau masa tahananya sudah selesai.

Tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di LP paling tua dan paling legendaris, LP Pasir Putih, konon tingkat standar keamanan di LP ini setara dengan keamanan yang diterapkan di Alcatraz. kami disuguhi dengan cerita yang melegenda juga, tentang seorang tahanan (dan satu-satunya) yang berhasil melarikan diri dari Nusakambangan, iya dia adalah Joni Indo. Saya membayangkan bagaiamana cara dia bisa keluar dengan standar keamanan seperti ini, dan lantas bagaimana dia bisa keluar dari Nusakambangan, apa mungkin berenang? atau? entah, saya hanya menikmati cerita pak Supir saja.

Kami menyempatkan singgah di Pantai yang berada tepat dibelakang LP Pasir Putih ini, sejenak rehat dan bersama menyantap makan siang kami. Pantainya cukup indah, hanya saat itu sedang pasang jadi kami tidak terlalu mendekat ke bibir pantai. Beberapa kali saya mengajak semua rombongan untuk berfoto bersama, sekedar mengabadikan kunjungan kami ke pulau ini. Semua lelah anak-anak nampak terbayar dengan pantai yang mereka lihat.

Pandangan saya akhirnya tertuju pada beberapa orang yang tampak menjajakan dagangan, hingga akhirnya saya tahu mereka menjual batu-batuan. Mereka nampak bukan orang jawa, mungkin daerah timur, perawakan mereka besar dan kulit mereka gelap legam. Hingga pada akhirnya saya sadar bahwa itu adalah beberapa dari narapidana yang ada di Nusakambangan. Beberapa rekan mentor dan anak-anak nampak mengelilingi narapidana itu, tidak tau apakah mereka membeli atau hanya sekedar melihat, sedang saya memilih untuk menepi. Setelah kunjungan selesai, salah satu Mentor berujar kepada saya tentang siapa orang itu. Ternya benar, mereka adalah bagian dari Narapidana. Dan yang baru saya ketahui, ternyata semua tahanan (kecuali dengan vonis hukuman mati) ketika mendekati masa pembebasan mereka, mereka akan dilepas dan dibiarkan hidup bebas di Nusakambangan. Mereka harus bertahan hidup dengan usaha mereka sendiri, kebanyakan mereka berjualan batu seperti beberapa orang yang saya temui dipantai tadi. Periode ini berlangsung sekitar 1 - 2 tahun sebelum masa pembebasan mereka. Hal ini sebagai bagian dari latihan lapangan agar mereka benar siap untuk kembali hidup ditengah lingkungan masyarakatnya kelak. Agar mereka terlatih untuk menjadi manusia yang lebih baik, dan tentu saja harapannya mereka tidak sampai berbuat jahat dan kembali ketempat itu lagi. Sungguh konsekuensi yang sangat keras.

Kami segera kembali ke pelabuhan untuk kembali menyeberang ke Cilacap dan melanjutkan perjalanan pulang. Waktu kami terbatas untuk berada di pulau tersebut. Sekitar pukul 13.30 WIB kami sudah meninggalkan Nusakambangan.

Kami melanjutkan perjalanan dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Teluk Penyu dan Benteng Pendem untuk kemudian segera pulang kembali menuju Solo.

Ketika perjalanan pulang saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada beberapa anak tentang pelajaran apa yang dapat mereka ambil setelah melakukan kunjungan tadi. Obrolan santai yang menurut saya cukup penting untuk menjadi media sharing kami. Sebagain besar saling mengejek satu dengan yang lain, mereka berujar " itu kak Fajar, si A nanti lulus kuliah langsung mau pindah ke sana (nusakambangan-red)" candaan yang membuat saya tersenyum. Hal itu membuat saya memahami bahwa semua anak tidak mau dan tidak pernah berharap untuk dipenjara.  Sedang sebagian anak menjawab dengan lebih serius "Aku akan lebih berhati hati kak dalam memilih tindakanku, aku tidak mau masuk penjara".

Senang, karena ternyata tujuan kunjungan kami teraa tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan yang ingin kami capai di awal, yakni akan-anak bisa lebih berhati-hati dan bijak tentang pilihan hidupnya. Karena kami tau kelak merekalah yang akan menjadi penerus bangsa ini, bagaimana itu bisa terwujud jika diusia remaja ini mereka salah menentukan pilihan hidupnya?

Secara pribadi saya sangat bersyukur untuk pengalaman ini, pengalaman yang memberikan banyak pelajaran kehidupan yang bisa saya ambil. Saya harus lebih bijak berhitung tentang konsekuensi yang akan saya teriama atas tindakan saya sekarang. Sebelum tertidur dalam bus, saya bergumam " mulai hari ini saya akan rajin belajar, agar besok bu guru tidak memarahi saya "

Salam Fajar Christ
Read More >>

Rabu, 22 Mei 2013

Kaca Mata Tuhan.....


Ahh, sangat menyenangkan jika sebentar bisa meninggalkan rutinitas di Solo. Benar saja, ini yang saya bayangkan ketika kemarin hari minggu (19/5/2013) saya menadapat kesempatan untuk ke Jogja dan menuju Pantai. Sudah sangat menyenangkan bisa melepas pandang yang jauh di ujung lihat laut setelah hari-hari hanya berbatas pada layar laptop dengan data-data yang sangat banyak. Terbayang juga angin sepoi pantai yang menyejukkan, yang pasti bisa menghilangkan rasa panas udara Solo akhir-akhir ini. Rindu juga untuk bisa bermain air di bibir pantai setelah biasanya hanya terkena air waktu mandi pagi dan malam karena sering pulang kerja larut.

Tidak hanya itu saja, yang lebih special adalah karena saya akan berangkat dengan teman-teman dari Gereja, yup, acara ini merupakan Persekutuan Gabungan Remaja dan Pemuda GKJ Jebres. Terbayang akan ada perjalanan dalam bus yang sangat riuh, semangat panas pantai yang menyenangkan, dan jalan bersama di Malioboro yang syahdu. Heeee

Saya sudah berada diujung perjalanan, semua masih sibuk dengan persiapan masing-masing, beberapa teman masih harus mengangkat peralatan untuk disana, Gitar, Jimbe, Tikar, dsb, sedang saya masih sibuk terik-teriak dan memastikan agar tidak ada barang yang tertinggal apalagi ada teman yang ketinggalan. Kami berangkat dengan 2 armada, 1 bus besar dan I bus kecil, saya sendiri berada di bus besar dengan teman-teman remaja, sedang rekan pemuda berada di bus yang kecil.

Perjalanan kami lalui dengan sangat menyenangkan, teman-teman dibelakang asik dengan gitar dan jimbenya, sedang yang ditengah dikuasai oleh ibu-ibu (remaja putri-red) yang asik ngegosip, sedang baris depan tampak lebih tenang. Cukup lama perjalanan kami, tapi dengan suasana yang fun, perjalanan itu tidak terasa.

Akhirnya kami sampai, jauh memandang terlihat laut yang begitu biru dan menyejukkan. Segera kami bergegas untuk persiapan acara persekutuan kami. Dan persekutuanpun dimulai.

Sssttttttt persekutuan sedang berlangsung….

Selesai persekutuan kami makan siang bersama, ikan cakalang bakar sudah siap kami santap, tapi saya  melihat semua tidak terlalu menikmati makan siang ini, bukan karena makanan yang kurang enak atau apa, tapi semua teman-teman sudah terlihat tidak sabar untuk segera menuju pantai.

Selesai makan dan kami bersiap untuk kepantai, semua langsung berganti kostum masing-masing. Beberapa rekan tetap tinggal di tempat makan, beberapa rekan sibuk menyiapkan kamera mareka, dan lebih banyak rekan yang sudah berlari duluan ke pantai untuk bermain air.

Saya juga segera berjalan ke bibir pantai Depok, melihat, dan bersyukur untuk semua berkat yang sudah Tuhan beri bagi saya dan bagi kami. Berjalan di atas pasir hitam yang basah dengan terik yang cukup panas siang itu. Akhirnya saya menceburkan diri ke air.

Dan disinilah akhirnya terjadi hal yang tidak saya inginkan. Sebelum saya ke air, saya sudah menitipkan Hp dan dompet saya, saya merasa ini cukup save untuk saya bermain air. Tapi ada satu hal yang sala lupa titipkan KACA MATA, yang tetap saya pakai.

Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, semua aman terkendali. Dengan teman yang lain saya duduk dan menunggu disapu oleh ombak lalu kembali ke pinggir lagi. Hingga pada satu kesempatan ada ombak yang cukup besar menyapu kami, pada sapuan pertama saya masih save dengan kaca mata yang saya pakai, tapi yang terjadi sebelum saya kembali menuju tepi saya disapu oleh ombak ke dua yang ternyata lebih besar, dan tentu saja saya tergulung hingga jauh dari tepi. Semua di air, sulit bernafas, dan kebingungan, hingga saya bisa keluar dan satu hal yang saya sadari KACA MATA saya sudah terlepas. Langsung panik dan berusaha mencari disekitar saya berdiri, tapi tetap saja tidak ketemu, beberapa rekan membantu dan tetap saja tidak ketemu. Akhirnya dalam hati saya berkata…. Selamat jalan kaca mataku, aku akan selalu mengenang setiap kebersamaan kita selama ini…. :’(

Sudah kepalang basah, akhirnya saya melanjutkan kegiatan dipantai, beberapa saat kemudian saya mengajak rekan yang lain untuk segera kembali karena ada perjalanan lagi yang harus kami tempuh.
Benar saja, sisa perjalan di Jogja tidak bisa saya nikmati dengan sepenuh hati. Saya jadi tidak bisa memandang dengan jelas, jadi mual, dan tentu saja sangat pusing.

Syalom,
Pengalaman ini sangat bermanfaat bagi saya, ketika saya tiba dirumah saya segera merenung, ada pelajaran apa yang bisa saya ambil. Saya mengambil Laptop dan saya menulis catatan ini

Kita hidup didunia ini, menjalani tiap sisi kehidupan yang sudah Tuhan beri, dengan semua Anugrah dan Kedamaian yang sudah Tuhan taruhkan atas kehidupan kita. Tapi pada sisi lain, sukakah si jahat dengan ini semua? Tentu tidak

Sebagai anak Tuhan kita harus terus berjalan beriringan dengan semua yang Tuhan mau itu kita lakukan dalam kehidupan ini, melihat semua sama seperti yang juga Tuhan lihat.

Seringkali kita jatuh pada apa yang dunia tawarkan, kbohongan, iri, dengki, dsb. Itu yang membuat kita merasa sangat jauh dengan Tuhan.

Lantas sebenarnya apa yang harus kita lakukan? Cara terbaik adalah kita harus memiliki hati dan mata seperti yang Tuhan punya. Belajar mengerti setiap kemuan Tuhan dalam kehidupan kita. Pada akhirnya Firman Tuhan akan membawa kita pada kesiapan diri yang lebih baik untuk menghadapi ancaman dari si jahat.

Setiap taburan Firman Tuhan memberi perspektif yang sama seperti apa yang Tuhan lihat. Sudut pandang dan penilaian kita tidaklah cukup mampu untuk menjaga kita dari semua dosa. Dengan memakai sudut pandang Allah, maka kita akan menjadi kuat. Semakain banyak kita merenungkan Sabda Tuhan, semakin tekun kita berdoa, semakin rutin kita bersaat terduh, semakin suka kita membaca Alkitab, maka kita akan semakin kuat untuk memakai sudut pandang Allah dalam kita menjalani kehidupan kita.

Jika tidak, maka seperti saya kehilangan kaca mata saya sehingga semua pandangan saya menjadi kabur dan tidak jelas, maka kita juga akan terncam ditipu oleh si Iblis dengan dosa. Kita tidak mampu melihat dengan jelas semua kehendak Tuhan dalam kehendak Tuhan.

Jangan pernah jauh apalagi melepaskan perspektif Allah, tetap menjadi kuat dalam Dia, maka kita akan semakin bijak untuk menjadi garam dan terang dunia bagi orang lain.

Tuhan Memberkati

kaca mata, aku kangen kamu :’(
Read More >>
Technology Blog