Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

KALAH? WHY NOT?

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengantar anak turnamen Futsal. Sedang ada Olimpiade Cluster untuk PPA se-Solo raya. Begitupun dengan anak-anak yang beberapa minggu sebelum pelaksanaan turnamen begitu bersemangat.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham dengan Futsal, hanya karena kebetulan pelatih anak-anak tidak bisa mendampingi maka saya yang harus menemani. Pelatih sebenarnya cukup yakin dengan kemampuan anak-anak untuk berbicara banyak pada turnamen kali ini, bahkan berkali-kali pelatih menekankan minimal anak akan masuk Final. Saya senang dengan rasa optimis yang dimiliki pelatih kami. Sembari kami berbincang, pelatih menyerahkan semua nama pemain Futsal serta siapa saja yang nanti akan turun pertama dalam pertandingan.

Anak-anak juga terlihat sangat antusias dan terlihat begitu siap dengan pertandingan yang akan dihadapi. Satu-satunya hal yang membuat pelatih khawatir hanya soal siapa yang menjadi Penjaga Gawang, anak yang biasa ada diposisi tersebut sekarang sudah kelas 1 SMA sehingga otomatis tidak bisa kami ikutsertakan mengingat batas peserta maksimal adalah kelas 3 SMP. Opsi kedua-pun tidak mesti berjalan dengan baik, karena kiper ke dua kami sudah jauh-jauh hari mengatakan jika pada hari pelaksanan kemungkinan tidak bisa ikut karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya dengan terpaksa kami memainkan kiper ke 3 dan pemain yang dipaksakan menjadi kiper. Keseluruhan, dari jatah 10 pemain yang bisa didaftarkan, kami hanya mengirimkan 7 nama untuk bertanding.

Hari pertandingan pun tiba, kami bertanding dengan PPA dari Klaten dan kick off jam 17.00 WIB. Kami berangkat naik dengan menyewa angkuta ke lokasi Turnamen. Perjalanan terasa begitu lama dan jenuh, macet karena mungkin jam kami berangkat sama dengan jam pulang kantor. Saya duduk didepan sedang seluruh anak dibelakang. Sedari berangkat anak terus saja saling berbincang tentang strategi apa yang akan mereka gunakan nanti, siapa yang akan didepan, siapa yang akan menjadi eksekutor tendangan bebas, dan banyak hal. Dari depan sesekali saya hanya menengok kebelakang dan kembali menghadap kedepan dengan senyuman kecil. “ahh, ini hari besar bagi mereka” gumamku.

Sampai dilokasi, saya hanya memberikan instruksi sederhana pada anak-anak, agar mereka segera memakai sepatu dan melakukan pemanasan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Anak-anak pun melakukan demikian, sedang saya harus menyelesaikan beberapa keperluan administrasi dengan panitia pertandingan dan wasit. 

Sesuai intruksi dari pelatih kami, saya memainkan 5 anak yang telah dipilih, sedang 2 yang lain harus bersiap dari bangku cadangan. Setelah beberapa instruksi dari wasit, akhirnya pertandingan dimulai.
Pertandingan dimulai dengan baik, anak-anak bermain sesuai dengan intruksi yang sebelumnya saya berikan dan PPA Klaten pun juga melakukan demikian. Permainan berimbang dan tidak ada yang terlihat dominan, kami saling berganti dna dalam melakukan penyerangan.
Gol yang ditunggu akhirnya terjadi juga, silih berganti pula. Kami saling berbalas gol dengan PPA Klaten. Permainan juga sangat menghibur, anak-anak saling menghormati didalam lapangan. Jangankan bermain kasar, bermain keras-pun kedua tim tidak melakukan. Dari luar saya memberikan instruksi sembari berbincang dengan official PPA Klaten dan juga wasit. Kami bersukacita bersama. Namun sebelum babak pertama selesai, ada sedikit kejadian yang tidak bisa kami hindarkan, karena begitu kerasnya tendangan dari PPA Klaten, tangan dari kiper ketiga kami cidera. Untuk mencegah hal lebih parah, akhirnya saya menariknya dan mengganti dengan pemain lain. Ryan, tampak kesakitan dan hanya memegangi pergelangan tangan kirinya, khawatir akhirnya saya dan rekan lain membawa anak ke Rumah Sakit untuk mendapat perawatan lanjutan yang memadahi. Babak pertama selesai dengan skor sama kuat, 4-4.

Untuk babak kedua, saya khawatir dengan kiper pengganti. “Apa dia bisa?”
Pertandingan pun dimulai kembali, dan seperti sebelumnya permainanpun berjalan seimbang. Kami saling berbalas serangan dan saling berbalas gol. Pertandingan nampaknya akan diselesaikan dengan babak adu pinalti, hingga akhirnya ketika waktu tersisa 2 menit PPA Klaten berhasil mengungguli kami, dan hingga pertandingan selesai tim kami tidak bisa membalas gol tersebut. Pertandingan akhirnya dimenangkan PPA Klaten dengan skor 8-7. Permainan yang baik.
Sisi lain, saya sempat berbincang dengan official wasit, dan merka mengatakan “tim-mu mainnya sangat bagus mas, tapi saying kipernya kurang bagus, sehingga mudah kebobolan dengan gol yang simpel” saya pun mengangguk, karena menurut saya memang demikian yang terjadi dilapangan. Dan juga, saya hanya memainkan 6 dari 7 anak yang kami bawa, terntu saja ini membuat anak-anak kelelahan di akhir pertandingan.

Tapi sekali lagi, apapun yang terlihat, nyatanya PPA Klaten berhasil mengalahkan kami. Selamat untuk PPA Klaten

Diluar hasil akhir yang harus kami terima, saya begitu tertarik dengan respon anak-anak pasca pertandingan. Selama perjalanan pulang mereka bercerita tentang jalannya pertandingan, dari mulai gol-gol yang terjadi hingga tentang kelelahan mereka. Ada satu kejadian menarik yang menurut saya sangat lucu, ditengah pertandingan salah satu anak kami menyentuh bola dengan tangan, tentu saja ini “hands ball” dan seharusnya dinyatakan pelanggaran, tapi karena wasit tidak melihat jadi pertandingan tetap dilanjutkan. Diposisi ini anak saya seharusnya juga tetap dilanjutkan, tapi yang terjadi anak tersebut malah melepas bola dan mengaku kepada wasit jika bola terkena tangannya. Haduh, anak-anak.

Hal yang juga sempat membuat saya tersenyum adalah anak yang dicadangkan dan tidak mendapatkan kesempatan bermain pun bisa berbesar hati dengan keputusan ini dan rekan yang lain memberi dukungan semangat pada dia. Walau sebelumnya pelatih mengatakan kepada saya, bahwa anak tersebut memang tidak semahir rekan yang lain tapi dia adalah yang paling rajin. Mengagumkan
Tapi yang lebih menyenangkan dan melegakan bagi saya adalah ketika mereka sepakat mengakui jika Klaten memang pemenang dan mereka juga bersepakat untuk berlatih lebih giat untuk mempersiapkan diri di turnamen selanjutnya. Kata mereka “kalah boleh, tapi ga boleh loyo” . Membanggakan

Saya belajar tentang banyak hal yang penting.
Terkhusus tentang bagaimana cara anak bersikap atas kekalahan mereka dan ketidakberuntungan mereka. Hingga saya terkagum dengan respon anak terhadap hal tersebut. Anak bisa melihat dari sisi lain tentang kejadian yang mereka alami, entah hal baik dan terlebih hal buruh yang harus mereka terima.

Menjadi seperti apa anak-anak kelak, kita akan memegang andil yang cukup besar untuk membantu mereka menemukan nilai kehidupan yang benar dimata Allah. Kita membantu mereka menemukan kebenaran yang mantab dalam Kristus. Bahkan ketika diluar tampak begitu menakutkan, mencekam, dan mengancam kenyamanan mereka.

Anak kita perlu menyadari bahwa saat ini mereka hidup di tengah-tengah banyak ketidakpastian dan ketidakadilab.

Mereka yang paling pintar dan belajar paling rajin belum tentu mendapat nilai terbaik dalam sebuah test, adakalanya mereka akan kalah dengan yang beruntung ataupun yang curang

Mereka yang berlatih paling keras belum juga tentu menjadi juara dalam sebuah pertandingan, adakalanya mereka akan kalah dengan yang beruntung ataupun yang curang

Mereaka yang paling rajin beribadah, berdoa, atau berbuat baik juga belum tentu memiliki kehidupan yang berlimpah, kenyataanya mereka kalah mapan dengan yang jahat dan yang korupsi

Apa yang seharusnya dilakukan dengan keadaan yang seberti ini?

Ada pepatah mengatakan demikian, bahwa “ Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses “, saya begitu setuju dengan pernyataan ini. Anak-anak kita perlu diberi kesempatan untuk melihat dunia ini dengan sebenar-benarnya, dengan segala kecurangan dan ketidakadilan yang sering kali malah menjadi nilai yang anut oleh banyak orang.

Mungkin tidaklah selalu salah jika pada satu kesempatan kita melakukan “pembiaran” ketika anak sedang berada dalam keadaan “dicurangi”, “kalah”, “terpuruk”, “terintimidasi”. Dengan kadar yang baik kita akan melihat respon anak akan stimulant tersebut, sembari kita menanamkan Nilai kebenaran kepada anak.

Entah kapan kita akan melihat anak-anak kita berhasil dengan pemahaman atas nilai kehidupan yang benar, tapi paling tidak kita dituntut untuk terus mengawasi anak berproses dengan peristiwa kehidupan yang mereka miliki. Tetap kita jaga tanpa harus melindungi anak dengan berlebihan, Tetap kita arahkan tanpa harus memanjakan anak secara berlebihan, tetap mendewaakan anak tanpa mengekang anak dengan ambisi pribadi kita.

Siapkah kita membantu mereka?

Read More >>

Senin, 30 Maret 2015

SAYA PENCURI

Tidak seperti biasanya, hari ini saya berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak begitu menyenangkan. Hati saya cukup terganggu pagi ini, terasa sangat enggan untuk ke kantor. Setelah beberapa hari yang lalu Ibu saya harus opname karena Vertigo, hari ini beliau memiliki jadwal kontrol lagi untuk melakukan terapi kerumah sakit. Ada hal yang sangat sulit untuk saya jelaskan, inti yang membuat saya sangat kalut adalah ibu tidak ada yang mengantar untuk kontrol. Saya dan semua sanak tidak bisa mengantar.

Sampai dikantor saya masih tidak nyamand dengan yang terjadi. Saya terus coba kontak rumah untuk memastikan beliau bisa kontrol ke RS tidak sendirian dan ada yang menemani. Beberapa kali telpon saya kepada beliau berakhir pada mail box dari HP jadul beliau. Saya terus mencoba hingga akhirnya beliau menjawab dan memastikan beliau kontrol ke RS ditemani oleh tetangga yang sudah seperti saudara sendiri bagi keluarga kami. Beliau berjalan kaki, dan beliau yakin ini tidak menjadi masalah. Jarak rumah dari RS memang tidak begitu jauh, ditengah kekuatiran saya tidak ada yang bisa saya lakukan selain percaya penuh kepada usaha yang beliau paksakan agar saya yakin. Cepet sembuh simbok (ibug)

Hari ini saya harus belanja perlengkapan untuk kebutuhan Futsal anak-anak PPA. Saya sendiri masih malas membuka tas yang saya bawa, hanya sesekali mengusap layar HP tanpa tahu harus membuka aplikasi apa. Saya menunggu Pak Teguh (tutor Futsal di PPA) yang juga belum nampak. Hingga akhirnya Mb Bekti (Bendahara PPA) mengagetkan saya, “Pak, uangnya tak kasih sekarang ya, soalnya saya mau keluar” saya cuma mengangguk pelan “iya”. Mb Bekti memang harus keluar juga karena harus membeli beberapa keperluan kantor yang harus disegerakan.

Tidak begitu lama lama Pak Teguh datang, kami sempat sebentar mengobrol mengenai kemana kami akan belanja dan apa saja yang akan saya belikan. Kamipun segera berangkat, karena matahari tampak semakin meninggi, panas.

Sepanjang perjalanan kami tidak berbicara banyak. Hanya beberapa kali kami berbicara mengenai kegiatan futsal yang anak anak-anak lakukan di PPA, tentang Barcelona yang menjadi tim favorit beliau sedang saya tentu masih membanggakan Juventus, klub favorit saya yang hari ini jerseynya juga saya kenakan. 

Karena tidak begitu jauh, kamipun sampai di Toko Olahraga yang dimaksud. Parkiran didepan toko masih terlihat sepi, hanya ada 2-3 motor yang terparkir dengan payung kardus bekas diatas jok nya. Kami segera turun dan mulai memasuki toko.

Suasana Toko tersebut terlihat sibuk, banyak pegawai yang lalu lalang sedang hanya ada pembeli yang terlihat disudut toko yang sedari tadi sibuk memilih jaket olahraga. Hari ini kami berencana memenuhi kebutuhan Futsal anak-anak PPA. Kami akan membeli kostum dan sepatu untuk anak-anak PPA yang selama ini selalu berlatih tanpa sepatu. Saya hanya yakin, mungkin ini sakit.

Rencana saya hanya menemani belanja dan jika selesai segera saya bayarkan, saya tidak berminat tanya ini dan tanya itu untuk memilih kostum futsal dan sepatu yang dimaksud. Disudut ruangan, pak Teguh masih sibuk mencari sepatu yang paling pas untuk anak-anak. Dia berbincang dengan pegawai toko yang masih seperti anak-anak, dan saya menebak mungkin baru saja lulus SMA. Saya sendiri hanya berdiri didekat rak sepatu bola lapangan yang tidak begitu ramai, dari situ saya melihat pak Teguh mengangguk-anggukan kepala atas apa yang dikatakan pegawai, saya sendiri tidak tahu pasti yang mereka bicarakan. Sesekali pak Teguh bertanya kepada saya mengenai macam-macam sepatu yang ada “bagus yang mana mas? yang hitam apa yang putih?” saya yang tidak begitu tahu tentang hal ini hanya berusaha menjawab seadanya dengan sedikit tersenyum “bagus yang hitam pak” Pak Teguh masih sibuk nego dengan pegawai toko.

Sedari tadi saya hanya iseng pegang sepatu, melihat-lihat, dan memang tidak berniat sama sekali untuk membeli. Bagus-bagus memang sepatu yang ada, warnanya juga bagus, dalam hati kecil hanya berbisik “ahh, sayang, saya tidak mungkin bermain sepak bola” Pak Teguh memanggil saya dan saya menghampiri beliau yang sudah berpindah disisi toko yang lain “Dibelikan kaos kaki sekalian ya mas? yang warnanya apa ya mas?” sekali lagi saya hanya menjawab seadanya “iya pak sekalian saja, yang warna putih bagus pak, netral, dikasih sepatu warna apa saja pasti cocok” dan pak Teguh maeng iya kan jawaban saya. Akhirnya sudah ada 12 Sepatu dan 12 Kaos kaki yang mantab kami pilih. Sedang Pegawai toko sibuk mencari plastik besar untuk membungkusnya. 

“Sekarang cari kostum mas” saya hanya bergumam “eem” dan kami beranjak keruang sebelah yang masih satu toko. Sejauh mata memandang hanya begitu banyak kaos olahraga yang digantung rapi di tempok ruangan. Warnanya juga bagus-bagus. Diruang ini saya lebih antusias dari pada di ruang sebelah tadi. Saya berjalan sembari sesekali memegang kaos yang ada, memilah mana yang menurut saya bagus. Pak Teguh kemudian mendekati saya dan bertanya mana baju yang cocok untuk anak-anak. Mata saya mulai melirik kiri dan kanan, dan memberikan masukan ke pak Teguh.

Tiba-tiba saya teringat pesan dari Mb Bekti tadi, bahwa setelah melakukan transaksi maka harus minta dibuatkan kwitansi resmi dari toko yang ada meterai dan dibubuhi tanda tangan serta stempel lunas dari Toko. Dan yang jadi masalah, saya lupa dengan yang mb Bekti pesankan kepada saya. Segera saja saya telpon Mb Bekti, berkali-kali dan tidak direspon. “Ahh, pasti masih dijalan”, saya terus mencoba hingga akhirnya di ujung telpon suara mb Bekti menyapa. Suaranya tidak begitu jelas karena riuh suara kendaraan dibelakangnya. Saya bertanya dan mb Bekti menjelaskan kemabali. Saya hanya mengangguk tanda mengerti atas yang dijelaskan

“ini bagus apa tidak mas?” tanya pak Teguh mengagetkan saya sembari menunjukan sepotong kaos olahraga berwarna Biru Langit, “bagus pak” jawab saya. Setelah lama memilah dna memilih akhirnya kami sepakat memilih kaos dengan corak minimalis berwarna “Hijau Muda”. “Wah, keren ya mas”

Setelah semua yang kami cari sudah kami dapatkan, kami disodori nota pembayaran yang harus saya bawa ke kasir untuk mengambil barang yang sudah kami pilih. Disinilah sebenarnya alasan mengapa saya harus menemani pak Teguh belanja. Iya, saya yang membawa uang dari bendahara.

Mb Bekti menitipkan uang yang dimasukan dalam tas kecil lucu dan imut, didalamnya ada juga beberapa lembar materai dan pulpen merah. Beberapa lembar uang biru 50 ribuan sudah ditata rapi dalam tas tersebut. Tiba-tiba saya menjadi “cantik” :)

Setelah petugas kasir mengitung seluruh barang akhirnya muncul nominal akhir dari pembelian. Habisnya lumayan banyak, hampir sekitar 2 juta rupiah. Saya pun duduk dikursi biru yang terlihat sudah rapuh dan seolah saya harus sangat berhati-hati duduk disana. Dari tas kecil itu, saya mengeluarkan sejumlah uang yang harus saya bayarkan. Saya menghitung dengan sangat berhati-hati, setelah itu saya serahkan pada petugas kasir yang selanjutnya menerawangkan uang yang saya berikan pada lampu led berwarna ungu, guna memastikan uang yang saya berikan adalah asli. Dan transaksi sudah saya selesaikan.

Sesuai dengan peraturan yang ada, bahwa pembelian dengan nominal di atas Rp 1.000.000 maka kami harus menyediakan bukti kwitansi bermaterai senilai 6.000. Hal ini sederhana, dan sayapun melakukan demikian.

Saya meminta kepada petugas kasir untuk menuliskan kwitansi yang sudah saya siapkan beserta dengan materai 6.000 yang sudah tertempel rapi di pojok kanan kwitansi. Saya berasumsi tentu yang saya jelaskan sudah cukup bisa dipahami, apalagi ini hanya pengisian kwitansi sederhana. “Namanya siapa mas”? saya singkat menjawab “Fajar mb”, kemudian dia melanjutkan menulis di kwitansi. Saya pun tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari yang petugas kasir tuliskan. Dan setelah membubuhkan tanda tangan dan stempel pada kwitansi, saya kembali disapa. “ini mas sudah”. Saya menerima kwitansi dan saya heran dan terkejut, karena nominal belanja yang saya lakukan tidak ditulis dalam kwitansi tersebut
“lhoh mb, ini nominalnya kok tidak ditulis?” tanya saya heran
“emm, harus ditulis ya mas? biasanya yang lain mereka yang menuliskan sendiri angkanya”

Saya baru sadar saya tengah terjebak pada situasi kecurangan masiv yang sudah sering terjadi disana. Tanpa perlu detail saya jelaskan tentu kita sudah tau apa yang saya alami. Petugas kasir berfikir jika saya hendak bermain dengan nominal rupiah yang ada di kwitansi tersebut. Mungkin dalam benaknya, saya menyodorkan kwitansi bermaterai agar saya bisa melakukan mark-up anggaran, sehingga saya memperoleh keuntungan pribadi.

Apa yang salah? Siapa yang salah? Mengapa ini terjadi?

Saya tidak bisa mengetahui secara detail apa yang sebenarnya terjadi dan saya tidak pernah tahu sejak kapan tradisi ini mulai dihidupi oleh banyak orang. Bagi saya, ini menjadi lahan basah yang sangat kotor. Disini banyak keuntungan pribadi yang dikerjakan namun banyak dosa yang dimaklumkan. Nilai kehidupan seolah ikut bergeser dengan perlahan namun pasti terjadi. Hal baik yang harusnya dilakukan setiap orang pun mulai disingkirkan.

Mungkin bukan hal yang mencengangkan lagi, mendengar kata korupsi bukanlagi menjadi keheranan bagi kita dimasa kini, bahkan masyarakat pinggiran-pun sudah sangat akrab dengan kata ini. Tentu yang saya alami siang ini bukan sebuah kejahatan “kakap” dengan banyak nominal yang dipermainkan, tapi bukanlah itu tetap menjadi sebuah dosa dan kesalahan? 

Hal ini begitu mengusik saya, apakah semua orang sudah kalah dan terjebak dalam lingkaran dosa ini? dan apakah tidak adaorang lagi yang perduli jika ini adalah sebuah kejahatan?

Tentu, saya tidak menganggap diri saya hebat atau suci, tidak sama sekali. Hanya saja saya merasa jika ini adalah sebuah kesalahan yang sangat bertentangan dengan nilai kebenaran yang selama ini saya yakini. 

Keberanian yang saya lakukanuntuk menolak ini tidak akan bisa mengubah kejahatan masiv ini, tidak akan merubah apapun. Tapi yang jelas, saya melakuakan ini karena saya yakin yang saya lakukan adalah hal yang baik dan benar.

“maaf mb, ditulis saja sesuai harganya” jawab saya

Lalu petugas kasir menulis nominal yang sesuai dengan nota asli. Saya memanggil pak Teguh yang masih melihat-lihat sepatu di ruang sebelah dan mengajak beliau pulang ke PPA. Kami melangkah keluar ke parkiran dan disambut oleh tukang parkir yang nampak sudah cukup tua.

“berapa pak?” tanya saya

“1.000 mas” jawab beliau

Sembari saya memberikan 1 lembar uang 2.000 an...

Dalam perjalanan pulang saya menggumam dalam hati “maaf mb, saya bukan pencuri”








Read More >>

Rabu, 22 Oktober 2014

Dengarkan Saya

Teringat..beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan sosial pengobatan gratis oleh sebuah klinik. Program pengobatan gratis yang dibidani oleh Jamsostek. Jadi selama 2 hari saya bersama beberapa rekan pimpinan dr. Sih Astuti melakukan tugas ini. wah pasti sangat menyenangkan. Kami segera berbagi tugas. Secara garis besar kami dibagi kedalam 4 bagian yakni Pendaftaran, Timbang dan Tensi, Pemeriksaan Dokter, serta Pengambilan Obat. Saya sendiri bertugas di bagian pendaftaran. Ah menyenangkan sekali pasti

Semua menjadi sedikit diluar prediksi saya. Selama dua hari, saya sangat mengalami kelelahan yang luar biasa. Semua jadi pegal, capek, males, dsb. Tapi overall saya sangat menikmati semua.
Ada kejadian lucu lho yang saya alami. Saya dibagian pendaftaran, dan salah satu tugas yang harus saya lakukan adalah menanyakan kepada pasian mengenai alergi obat yang dimiliki, agar nanti bisa ditangani lebih khusus jika memang memiliki alergi terhadap obat. Dan beruntungnya kejadian ini saya nikmati dalam 2 percakapan tentang alergi obat pada pasien yang sudah sangat tua. Begini kurang lebih kedua percakapan itu
///////////////////
Saya : “mbah, gadhah alergi kaliyan obat mbah?” – “mbah, apakah anda memiliki alergi obat?”
Pasien 1 : “niki, tangan kula gathel-gathel trus awake keju kemeng” – “ini mas, tangan saya gatal-gatal dan badan saya pegal linu”
Saya : ………………………
Pertanyaan saya mengenai alergi obat yang dimiliki bukan keluhan yang sedang dirasakan
////////////////////
Saya : “mbah, yuswanipun pinten?” – “mbah, usia anda berapa?”
Pasien 2 : “mbah Karman, sak niki sampun seda” – “mbah Karman, sekarang sudah meninggal”
Saya : …………………….
Saya bertanya berapa usia pasien tapi jawaban yang diberikan adalah nama suaminya yang sudah meninggal
//////////////////
Dari dua pertanyaan tadi mungkin benar jika da kemungkinan saya salah metode dalam menyampaikan pertanyaan dan juga bisa mungkin bahwa pasien tidak mendengarkan apa yang saya tanyakan. Tapi intinya adalah satu yakni TIDAK ADA KOMUNIKASI YANG BAIK
Bro..sist..
Ini tentang mendengar…
Seolah secara otomatis kita dilahirkan untuk menjadi seorang pembicara yang ulung daripada menjadi seorang pendengar yang baik. Kita terbiasa untuk banyak bicara dan menginginkan orang lain untuk diam mendengar serta menyimak semua kalimat yang keluar dari mulut kita. Apa benar? Renungkanlah. Ini terjadi terus menerus dan berkesinambungan. Lantas kemudian saya berfikir, apa ini yang kemudian membuat kemampuan kita mendengar menjadi menurun? Entahlah
Dan dari itu semua, kita diharapkan tidak menumpulkan kemampuan mendengar kita. Ada baiknya kita bersedia untuk memberikan telinga dan waktu kita ketika ada orang lain yang tengah bercerita, berbagi kisah, atau berbicara. Karena ini adalah kebutuhan, kita semua, INGIN DIDENGARKAN……..
Read More >>

Senin, 09 September 2013

ada ALKITAB di jalanan, maka BERSYUKURLAH…..

sdsd Terbangun dari tempat tidur, bergegas dan langsung menuju ke KM untuk mandi. Hari ini bangun sedikit kesiangan, sisa rasa capek tadi malam masih sangat terasa. Setelah Saat Teduh, biasanya saya selalu menyempatkan untuk membuka Laptop dan otak-atik, tapi pagi ini tidak, saya memilih untuk merebahkan diri di suduk tempat tidur dengan sarung dari bapak yang saya gunakan untuk selimut. Dan saya tertidur….

Jadwal hari ini sudah tersusun dengan cukup rapi. Jam 09.00 – 10.00 bertugas jadi Keyboardist Ibadah Siang di GKJ Jebres. Sesaatnya ada sekitar 30 menit untuk beristirahat karena jam 10.30. – 12.00 harus kembali memberi les gitar bagi beberapa remaja PRKJ yang rindu belajar bermain musik. Setelahnya di ajak temen untuk berbelanja beberpa keperluan.

Les Gitar

Hari ini yang datang les gitar lumayan banyak, 12 anak. seperti biasa setelah doa kelas langsung dibagi menjadi 2, kelas kecil dan besar. Kelas kecil mendapat materi untuk membiasakan pindah chord, masih seputar pada G – Em – C – D. Sedang murid kelas besar harus digenjot dengan materi minggu lalu dan harus melahap materi melodi yang lumayan sulit. Perbedaan ini yang harus membuat saya wira-wiri ke masing-masing ruang. Melelahkan, tapi saya hanya berusaha menjadi mentor yang baik bagi mereka. Nice, kebingungan mereka, semangat mereka, keluguan mereka, yang semakin membuat saya yakin untuk terus setia menemani mereka belajar gitar.

Belanja dan Makan Siang

Sejenak dirumah dan segera berangkat lagi untuk belanja. Tinggal nunggu dijemput, dan langsung berangkat. Kami mencari beberapa keperluan untuk perbaikan handphone kami. tidak terlalu lama karena kami hanya mencari yang kami butuhkan, membeli, dan langsung pulang. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk mencari makan siang, karena memang kami sangat kelaparan saat itu. Bakso menjadi pilihan kami. Dan ketika tiba dirumah makan kami akhirnya memesan lebih banyak, bakso, es campur, dan segelas es teh. Dengan lahap kami berdua makan, walau sejujurnya perut seolah berontak karena kami sudah kenyang.

Bergegas kami pulang, karena memang sudah sore dan saya sudah sangat kecapean. sepanjang jalan pulang kami hanya banyak berbicara yang terkadang omong kosong atau sekedar hanya bercanda. Hingga akhirnya pada salah satu perempatan jalan raya ada kejadian luar biasa yang menggetarkan hati saya, iya benar, menggetarkan hati saya

Sejenak sebelum kami harus berhenti karena lampu merah, secara tidak sengaja saya menoleh di kiri, dan apa yang saya lihat adalah hal yang hebat. Di salah satu emperan toko yang tutup, saya melihat seorang ibu dengan tenang SEDANG MEMBACA ALKITAB. Sempat ragu, tapi jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya yakin bahwa saya tidak salah melihat jika yang sedang dibacanya adalah ALKITAB. hati saya benar-benar bergetar.

Seolah dia tidak memperdulikan lalu lalang jalanan yang cukup terik dan sangat bising. Bibirnya terus bergerak seperti tengah membaca sesuatu. Ahh, sungguh indah Tuhan. Belum hilang rasa kagum saya, saya kembali dibuat bergetar dengan ibu itu, ketika dengan tulus ia memijit kaki seorang lelaki tua yang tertidur disebelahnya, saya tidak bisa memastikan tapi saya menduga lelaki itu adalah suaminya. Berharap bisa membagi berkat, saya kemudian memberi tahu kepada teman saya, dan dia juga nampak sangat terkagum dengan apa yang kami lihat. TUHAN ENGKAU SANGAT LUAR BIASA

Pemandangan sangat indah yang hanya bisa saya nikmati selama 60 detik saja dan kami pun berlalu

Sore ini saya belajar banyak hal, ada beberapa hal yang terus saya pergumulkan dan renungkan dalam hati saya…..

1. Membaca Alkitab, jelas bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan saya. Alkitab tidak pernah lepas dari keseharian saya. Minimal saya akan membaca Alkitab ketika pagi saya saat teduh serta saya masih berusaha rutin untuk bisa bible reading tiap malam sebelum tidur. Sedang pada kegiatan yang lain tentu itu bisa bertambah. Saya sudah cukup dekat dengan Alkitab kan?? TAPI TUNGGU DULU seolah hal itu runtuh begitu saja ketika melihat ibu itu, Saya membaca Alkitab pada kondisi “save”, semua terkendali dengan sangat baik, tenang, teduh, sepi, dan pada waktu yang sangat mendukung. Tapi yang dilakukan ibu itu dengan gagah “mempecundangi” pemahaman saya. Tentu bukan soal intensitas atau usaha dalam memahami isi Firman yang sama-sama kami baca tapi yang jelas ibu itu lebih berani, lebih tangguh, dan lebih hebat. Ibu itu menghadapi tantangan yang lebih besar daripada yang saya hadapi. Lalu-lalang pejalan kaki tak di gubrisnya, bising klakson kendaraan tak menghalanginya, terik sinar matahari tak mengalahkanya, bahkan tatap pandangan mata dari orang yang melihatnya tidak mampu memupuskan keinginannya untuk membaca Alkitab tersebut.

2. Ini hal yang sangat penting yang sempat menjadi bahan diskusi saya dan teman saya. Hal itu adalah, MENGAPA IBU ITU HARUS SEPERTI ITU?, bukankah dia orang baik? bukankah dia orang yang takut akan Tuhan? bukankah dia orang yang setia? lantas mengapa ibu itu harus hidup dijalanan yang begitu keras dan bahkan mungkin ibu itu tidak memiliki rumah untuk dia berteduh.

Jika menjawab itu hanya karena nasib, maka selesai sudah pertanyaan diatas. Tapi dalam kediaman saya, saya mengetahui banyak hal yang luar biasa.

Tapi tentu ada hal lain yang saya maknai ulang, tentang keberadaan ibu itu. Tentu saja dan saya percaya, ibu itu juga tengah membawa pesan khusus dari DIA yang harus disampaikan kepada SAYA.

Siang itu menjadi satu moment dimana Tuhan kembali mengingatkan saya tentang arti dari sebuah ungkapan syukur yang tulus. Ibu itu mengajari saya untuk menikmati kehidupan dari sisi yang lebih mulia, menghitung dan merenda tiap berkat yang Tuhan beri menjadi satu pola kehidupan yang baik. Siang itu dimana dengan nyaman saya bisa bangun pagi, saya bisa bertugas musik ibadah, saya bisa memberi les gitar, saya bisa belanja, dan bahkan saya bisa makan dengan lebih, tapi kenyataannya yang sering terjadi adalah saya lupa untuk bersyukur. Kesempatan yang mungkin tidak bernah akan ibu itu miliki, bahkan untuk memikirkannyapun tidak. Tapi yang ibu lakukan itu telah mengajari saya untuk terus bersyukur tiap hari dan tanpa henti

Terima kasih tuhan atas pelajaran yang telah Engkau berikan kepadaku melalui ibu itu…..

Read More >>

Jumat, 30 Agustus 2013

Jangan Mau Terlahir Sebegai Perempuan Indonesia

Ada hal yang sangat mengusik hati saya. Mungkin saja bukan hal yang penting, tapi jelas hal ini membuat saya risau. Dan lagi, ini tentang perampasan hak hidup bagi golongan tertentu. Kerisauan saya muncul setelah saya melihat berita di Televisi tentang tes keperawanan yang bakal direncanakan Dinas Pendidikan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Saya langsung berfikir, hal gila apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Dengan seksama saya mengamati liputan tersebut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Alasan yang diangkat adalah fenomena praktik prostitusi dikalangan remaja putri. Begitu banyaknya remaja putri yang tidak lagi Virgin dirasa akan semakin mengancam diri mereka sendiri dan masa depan mereka. Ini yang tidak bisa ditolerir.

Dengan tegas saya memilih untuk skeptis dengan rencana ini. Mengapa harus ada rencana “gila” seperti itu? Bukankah ini satu hal yang konyol untuk bisa dijalankan dengan baik? Namun tetap saja berita ini menjadi wacana yang cukup unik yang pasti memunculkan banyak respons dan tanggapan serta tentu saja akan menuai pro dan kontra.

Beberapa siswi mengungkapkan pendapat mereka, bahwa mereka setuju dengan rencana ini. Mereka merasa ini sangat perlu untuk menjaga para remaja putri dari dunia prostitusi dini yang mengancam mereka. Siswi yang lain dengan “gagah” menjawab “jika mereka memang masih perawan, seharusnya mereka tidak perlu takut dengan tes yang akan diadakan ini” Sedang bagi mereka yang menolak usulan ini menyatakan bahwa hal ini akan semakin membatasi kesempatan belajar bagi semua anak Indonesia.

Saya diam sejenak, berfikir, dan melihat kembali dari sisi yang lain
Iya benar, mungkin tes seperti ini memang perlu untuk dilakukan. Saat lingkungan sosial tak bisa lagi membendung budaya prostitusi dini, mungkin “ancaman” ini akan membuat anak berfikir lebih lagi untuk tidak menjaga keperawanan mereka. Pada sisi lain, pastilah orang tua juga terbantu dalam usahanya untuk menjaga masa depan putri mereka. Pada skala yang lebih besar, usaha ini akan sangat efektif untuk menekan angka kejahatan tindak prostitusi yang sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan. Sangat membantu

Namun pada sisi lain ternyata hal ini tidak sepenuhnya membantu. Ada banyak faktor yang seharusnya diperhatikan lebih dulu, mengapa praktik seperti ini bisa berkembang dan cenderung mengancam. Dan ternyata saya menemukan banyak sisi dimana tidak semuanya kasus ini dilatar belakangi oleh kenakalan remaja saja, berikut beberapa hal tersebut

1.    Kondisi Ekonomi
Faktor ini yang mungkin paling umum yang bisa dijadikan alibi, bahwa kadang mereka terjebak dalam usaha pemenuhan kebutuhan kehidupan yang lain. Sedang kenyataannya mereka tidak memiliki daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Biaya sekolah, biaya kontrak rumah, biaya makan, bahkan mungkin orang tua yang sakit. Sehingga para remaja unti seolah dipaksa oleh keadaan untuk menjajakan diri mereka, karena kebutuhan kehidupan yang mendesak yang semakin menghimpit mereka. Salahkah jika mereka melakukan ini?

2.    Perhatian Orang Tua
Kita tentu tidak mungkin mengesampingkan bagaimana seharusnya peran orang tua dalam menjaga masa perkembangan remaja putri mereka. Usia remaja adalah masa pencarian jati diri mereka. Pada tahap ini tentu saja mereka membutuhkan figur yang sangat fundamental untuk mereka jadikan sebagai idola. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah, sudahkan orang tua menjadi contah yang baik bagi anaknya? Atau  sudahkah orang tua menjadi pendamping yang baik bagi anaknya menjalani proses pencarian jati dirinya? Dan apakah orang tua sudah melakukan usaha menjaga anaknya? Ingat, tidak semua remaja putri yang jatuh pada kasus ini berasal dari keluarga yang tidak mampu. Salahkah jika mereka melakukan ini?

3.    SEKOLAH???
Faktor ini yang membuat saya bergetar ketika menuliskannya. Coba fikirkan pertanyaan ini  dari mana mereka mulai mengenal dunia prostitusi? SEKOLAH. Siapa yang membujuk dan mengajak mereka dengan iming-iming untuk mengenal dunia prostitusi? TEMAN SEKOLAH. Bukankah seharusnya sekolah menjadi tempat untuk mereka memiliki nilai-nilai moral yang baik? Entahlah

Perlu banyak hal yang harus dikaji dengan seksama sebelumnya untuk menjadikan usulan ini menjadi keputusan. Tentu tidaklah bisa dengan semen-mena, karena bisa saja efek yang ditimbulkan menjadi semakin parah . Lepas dari kepentingan-kepentingan yang mungkin ada didalamnya, kita perlu menjadi bijak.

Jika benar menjadi keputusan. Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah “terlanjur” tidak lagi perawan? Haruskah mereka dikeluarkan? Padahal dengan mereka keluar, maka kesempatan mereka untuk belajar akan hilang dan tentu saja ini lebih mengancam masa depan anak. Bahkan mungkin juga hal ini akan semakin membuat mereka jatuh lebih dalam pada kejahatan ini karena mereka sudah tidak lagi bisa melanjutkan pendidikannya. Pada sisi yang lebih dalam, akan timbul kebencian yang semakin mendalam pada anak untuk terus menyalahkan diri mereka sendiri atas keperawanan yang sudah tidak lagi mereka miliki.

Lantas? Apa peran guru BK disekolah? Apakah hanya menyelesaikan urusan anak yang merokok saja? Yang berkelahi saja? Tentu tidak kan?
Bukankah ini jadi penghakiman sosial yang lebih menyakitkan bagi mereka?
Terasa sangat sulit dan menyakitkan, logikanya, dalam kondisi normal saja banyak anak yang tidak bersekolah, apalagi jika wacana ini menjadi sebuah keputusan, terbayang banyak yang putus sekolah dan menjadi PSK belia
Dalam hati saya berharap, agar hal ini tidak menjadikan bangsa Indonesia kembali pada tradisi dulu Diana hak wanita dibatasi dan dikekang sedemikian rupa. Entahlah, mungkin ini hanya yang terfikirkan oleh saya pada saat ini.
Berharaplah agar terlahir sebagai laki-laki di negeri ini jika ini menjadi sebuah putusan

Saya adalah seorang LAKI-LAKI, tapi saya menolak wacana ini. Jika memang FAIR, lakukan juga Test “keperjakaan” pada setiap siswa putra. Beranikah??

Read More >>

Selasa, 13 Agustus 2013

Pilihan Hidupku di NUSAKAMBANGAN



PILIHAN HIDUP
sangat menyenangkan ketika ada sedikit waktu untuk berdiam, terlebih ketika ada kesempatan untuk melihat kembali peristiwa pada masa lampau yang telah terlewatkan. kita dituntun untuk melihat lebih jauh tentang peristiwa tersebut dan kita harus belajar daripadanya. Kenyataan yang tidak bisa kita hindari adalah bahwa apa yang sekarang kita miliki, apa yang sekarang terjadi pada kita adalah konsekuensi logis atas pilihan-pilihan tindakan kita di masa lampau. contoh sederhana yang dapat kita lihat, pagi ini saya sangat mengantuk karena semalam saya memilih untuk menonton film hingga larut, saya dimarahi guru karena kemarin saya tidak belajar sehingga nilai ulangan saya sangat buruk. Jika kita memahami hal ini, bukankah seharusnya kita semakin bijak untuk memilih pilihan baik sekarang agar dimasa yang akan datang kita tidak mengalami hal yang merugikan?

Konsep ini yang menjadi latar belakang dari PPA IO 998 Berea GKI Sorogenen mengajak Anak usia 15-22th untuk melakukan kunjungan ke Nusakambangan. tempat legendaris bagi dunia narapidana di Indonesia, dimana tempat itu dilihat dipandang sebagai upaya akhir dari usaha permasyarakatan para pesakitan agar dapat kembali diterima di lingkungannya lagi. LP dengan standar keamanan tinggi bagi narapidana kelas kakap. tempat yang sangat terisolir dan terdengar sangat menyeramkan.

Tentu membutuhkan ide kreatif dan keberanian yang cukup bagi kami untuk mengajukan program ini. Hal ini berangkat dari pemahaman kami bahwa anak-anak perlu mendapatkan pelajaran mengenai Pilihan Hidup dalam perkembangannya, pemberian materi dalam kelas sudah kami berikan tapi kami merasa kegiatan ini akan sangat memperlengkapi pemahaman dan konsep anak mengenai Pilihan Hidup bagi dirinya sendiri.

Dan hari itu kami berangkat....

Senin, 24 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Semua rekan dan anak-anak sudah terlihat cukup riuh di halaman gereja, mereka sudah siap untuk berangkat dan mereka sangat antusias. Beberapa anak tampak sudah bersiap dengan tas ransel dan jaket tebalnya, sedang terlihat anak perempuan lebih ribet lagi dengan banyak barang bawaannya, untuk hal ini kita harus maklum :). Kami naik bus untuk segera melakukan perjalanan yang sangat panjang dan cukup melelahkan. Saya sendiri berharap bisa tidur selama perjalanan, begitupun yang saya harapkan agar anak-anak bisa tertidur sehingga esok hari bisa menikmati perjalanan dan kunjungan mereka ke Nusakambangan. Tapi tentu saja saya salah, anak-anak terlihat asik dan cukup riuh, hingga perlu beberapa kali diberikan nasehat agar lekas tidur. Sekitar pukul 12 malam suasana dalam bus sudah benar-benar hening.

Selasa, 25 Juni 2013 pukul 05:00 WIB
Kami sampai di tempat pemberhentian, ditempat ini kami dijadwalkan untuk mandi dan sarapan, sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Beberapa anak masih memilih untuk tidur sedang beberapa anak yang lain sudah mulai bersiap dengan gaduh untuk mandi pagi. Sekitar pukul 07:00 WIB kami makan pagi dan tepat pukul 08:00 WIB kami melanjutkan perjalanan kembali. Saya berharap ini tidak menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan serta berharap agar segera sampai ke pulau Nusakambagnan.

Selasa, 25 Juni 2013 pukul 09:00 WIB
Melegakan rasanya, ketika tiba-tiba saya terbangun karena bus kami berhenti. Kami sudah sampai di dermaga untuk menyeberang ke Nusakambangan. kami sibuk bersiap untuk turun sedang dari biro bus yang kami pakai sibuk mengurus perijinan. Serentak semua turun dari bus dan bersiap mengunjungi pulau legendaris itu. Yang saya fikirkan pada waktu itu itu adalah, saya akan masuk pada wilayah yang sangat menyeramkan, penuh dengan narapidana, penuh dengan polisi, mungkin juga ada banyak narapidana yang sedang bekerja disana (mungkin saja anak-anak juga berfikir demikian). Tapi waktu penyeberangan kami sedikit tertunda, entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sekilas saya mendapat informasi bahwa sedang ada keluarga  yang tengah membesuk narapidana, ada juga yang berujar bahwa kapal yang membawa kita menyeberang sudah penuh, sehingga kami harus menunggu terlebih dahulu. Setelah sekitar 1 jam menunggu, akhirnya giliran kami untuk naik perahu penyeberangan datang. Kami semua langsung naik ke perahu tersebut, terlihat kami berbarengan dengan beberapa penduduk lokal yang menyuplai bahan makanan dan beberapa petugas dari pelabuhan.

Kami di Nusakambangan
Perjalanan yang kami tempuh untuk menyeberangi nusakambangan tidaklah terlalu lama, mungkin hanya sekitar 15-20 menit saja. Dan akhirnya kami menginjakkan kaki di Nusakambangan. Sampai disana, rombongan dari 998 dipecah menjadi 2 bus kecil yang hanya muat sekitar 20an penumpang saja. Mau tidak mau kami harus membagi rombongan juga, hanya itu akses yang bisa kita dapatkan untuk melakukan perjalanan ke Nusakambangan.

Secara khusus, tidak ada guide yang membantu kami dengan menjelaskan bagian-bagian apa saja yang ada di Nusakambangan tersebut. Bersyukur karena mini bus yang saya tumpangi memiliki sopir yang ramah yang dengan tidak segan menjawab pertanyan dari salah satu Mentor yang duduk dibelakang meja kursi. Secara tidak langsung pak sopir ini telah menjadi guide kami, pak sopir itu bercerita panjang lebar mengenai Nusakambangan, terlebih tentang macam-macam penjara yang ada disana. Pada mulanya saya berfikir bahwa di Nusakambangan ini hanya memiliki 1 Rumah Tahanan yang sangat besar, ketat, menyeramkan, dan terletak di tengah pulau Nusakambangan, tapi ternyata tidak, ada beberapa penjara disini yang disesuikan dengan kasus serta masa hukum narapidananya

Sembari terus melakukan perjalanan, saya hanya melihat kiri kanan daerah tersebut yang masih hutan belantara, sopir juga berujar jika malam hari suasana menjadi sangat menyeramkan, lampu penerangan jalan yang sangat minim dan hewan buas yang masih berkeliaran di daerah tersebut. Memang harus saya akui, yang saya lihat bukanlah pemandangan yang menyenangkan, beberapa rumah yang ada disana terlihat sangat kotor dan tidak terawat, bahkan beberapa rumah mungkin tanpa penghuni. Tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada satu bangunan, tidak terlalu besar tapi terlihat cukup terawat yauit sebuah Gereja, pada bagian atas pintu tertulis Gereja Nusakambangan, dalam hati ingin sekali rasanya bisa masuk, semoga suatu saat ada kesempatan.

Sesekali bus kami melambat ketika kami berhenti pada satu rumah tahanan ke rumah tahanan yang lain. Kami masih cukup tenang mendengarkan penjelasan dari sopir kami. Ditunjukan Rumah Tahanan yang dulu menjadi LP bagi Tommy Soeharto. Lantas kami melanjutkan perjalanan ke LP-LP selanjutnya. Saya begitu tertarik dengan bangunan tua disebelah kiri bus kami, bangunan yang saya yakin sudah tidak dipakai lagi. Bangunan setinggi 2 meter berbentuk persegi yang hanya tersusun dari batu bata usang, dalah hati saya bertanya, ini bangunan apa? dan beruntung, sesaat setelah itu dijelaskan bahwa pada masa penjajahan, bangunan itu digunakan untuk memenjarakan narapidana yang terkena sakit kusta, semuanya, tanpa memandang latar belakang kasus dan berapa lama hukuman yang dijatuhkan padanya, bahkan konon akhirnya tidak ada yang bisa keluar karena mereka ditahan hingga mati tanpa ada hak bebas walau masa tahananya sudah selesai.

Tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di LP paling tua dan paling legendaris, LP Pasir Putih, konon tingkat standar keamanan di LP ini setara dengan keamanan yang diterapkan di Alcatraz. kami disuguhi dengan cerita yang melegenda juga, tentang seorang tahanan (dan satu-satunya) yang berhasil melarikan diri dari Nusakambangan, iya dia adalah Joni Indo. Saya membayangkan bagaiamana cara dia bisa keluar dengan standar keamanan seperti ini, dan lantas bagaimana dia bisa keluar dari Nusakambangan, apa mungkin berenang? atau? entah, saya hanya menikmati cerita pak Supir saja.

Kami menyempatkan singgah di Pantai yang berada tepat dibelakang LP Pasir Putih ini, sejenak rehat dan bersama menyantap makan siang kami. Pantainya cukup indah, hanya saat itu sedang pasang jadi kami tidak terlalu mendekat ke bibir pantai. Beberapa kali saya mengajak semua rombongan untuk berfoto bersama, sekedar mengabadikan kunjungan kami ke pulau ini. Semua lelah anak-anak nampak terbayar dengan pantai yang mereka lihat.

Pandangan saya akhirnya tertuju pada beberapa orang yang tampak menjajakan dagangan, hingga akhirnya saya tahu mereka menjual batu-batuan. Mereka nampak bukan orang jawa, mungkin daerah timur, perawakan mereka besar dan kulit mereka gelap legam. Hingga pada akhirnya saya sadar bahwa itu adalah beberapa dari narapidana yang ada di Nusakambangan. Beberapa rekan mentor dan anak-anak nampak mengelilingi narapidana itu, tidak tau apakah mereka membeli atau hanya sekedar melihat, sedang saya memilih untuk menepi. Setelah kunjungan selesai, salah satu Mentor berujar kepada saya tentang siapa orang itu. Ternya benar, mereka adalah bagian dari Narapidana. Dan yang baru saya ketahui, ternyata semua tahanan (kecuali dengan vonis hukuman mati) ketika mendekati masa pembebasan mereka, mereka akan dilepas dan dibiarkan hidup bebas di Nusakambangan. Mereka harus bertahan hidup dengan usaha mereka sendiri, kebanyakan mereka berjualan batu seperti beberapa orang yang saya temui dipantai tadi. Periode ini berlangsung sekitar 1 - 2 tahun sebelum masa pembebasan mereka. Hal ini sebagai bagian dari latihan lapangan agar mereka benar siap untuk kembali hidup ditengah lingkungan masyarakatnya kelak. Agar mereka terlatih untuk menjadi manusia yang lebih baik, dan tentu saja harapannya mereka tidak sampai berbuat jahat dan kembali ketempat itu lagi. Sungguh konsekuensi yang sangat keras.

Kami segera kembali ke pelabuhan untuk kembali menyeberang ke Cilacap dan melanjutkan perjalanan pulang. Waktu kami terbatas untuk berada di pulau tersebut. Sekitar pukul 13.30 WIB kami sudah meninggalkan Nusakambangan.

Kami melanjutkan perjalanan dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Teluk Penyu dan Benteng Pendem untuk kemudian segera pulang kembali menuju Solo.

Ketika perjalanan pulang saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada beberapa anak tentang pelajaran apa yang dapat mereka ambil setelah melakukan kunjungan tadi. Obrolan santai yang menurut saya cukup penting untuk menjadi media sharing kami. Sebagain besar saling mengejek satu dengan yang lain, mereka berujar " itu kak Fajar, si A nanti lulus kuliah langsung mau pindah ke sana (nusakambangan-red)" candaan yang membuat saya tersenyum. Hal itu membuat saya memahami bahwa semua anak tidak mau dan tidak pernah berharap untuk dipenjara.  Sedang sebagian anak menjawab dengan lebih serius "Aku akan lebih berhati hati kak dalam memilih tindakanku, aku tidak mau masuk penjara".

Senang, karena ternyata tujuan kunjungan kami teraa tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan yang ingin kami capai di awal, yakni akan-anak bisa lebih berhati-hati dan bijak tentang pilihan hidupnya. Karena kami tau kelak merekalah yang akan menjadi penerus bangsa ini, bagaimana itu bisa terwujud jika diusia remaja ini mereka salah menentukan pilihan hidupnya?

Secara pribadi saya sangat bersyukur untuk pengalaman ini, pengalaman yang memberikan banyak pelajaran kehidupan yang bisa saya ambil. Saya harus lebih bijak berhitung tentang konsekuensi yang akan saya teriama atas tindakan saya sekarang. Sebelum tertidur dalam bus, saya bergumam " mulai hari ini saya akan rajin belajar, agar besok bu guru tidak memarahi saya "

Salam Fajar Christ
Read More >>

Rabu, 22 Mei 2013

Kaca Mata Tuhan.....


Ahh, sangat menyenangkan jika sebentar bisa meninggalkan rutinitas di Solo. Benar saja, ini yang saya bayangkan ketika kemarin hari minggu (19/5/2013) saya menadapat kesempatan untuk ke Jogja dan menuju Pantai. Sudah sangat menyenangkan bisa melepas pandang yang jauh di ujung lihat laut setelah hari-hari hanya berbatas pada layar laptop dengan data-data yang sangat banyak. Terbayang juga angin sepoi pantai yang menyejukkan, yang pasti bisa menghilangkan rasa panas udara Solo akhir-akhir ini. Rindu juga untuk bisa bermain air di bibir pantai setelah biasanya hanya terkena air waktu mandi pagi dan malam karena sering pulang kerja larut.

Tidak hanya itu saja, yang lebih special adalah karena saya akan berangkat dengan teman-teman dari Gereja, yup, acara ini merupakan Persekutuan Gabungan Remaja dan Pemuda GKJ Jebres. Terbayang akan ada perjalanan dalam bus yang sangat riuh, semangat panas pantai yang menyenangkan, dan jalan bersama di Malioboro yang syahdu. Heeee

Saya sudah berada diujung perjalanan, semua masih sibuk dengan persiapan masing-masing, beberapa teman masih harus mengangkat peralatan untuk disana, Gitar, Jimbe, Tikar, dsb, sedang saya masih sibuk terik-teriak dan memastikan agar tidak ada barang yang tertinggal apalagi ada teman yang ketinggalan. Kami berangkat dengan 2 armada, 1 bus besar dan I bus kecil, saya sendiri berada di bus besar dengan teman-teman remaja, sedang rekan pemuda berada di bus yang kecil.

Perjalanan kami lalui dengan sangat menyenangkan, teman-teman dibelakang asik dengan gitar dan jimbenya, sedang yang ditengah dikuasai oleh ibu-ibu (remaja putri-red) yang asik ngegosip, sedang baris depan tampak lebih tenang. Cukup lama perjalanan kami, tapi dengan suasana yang fun, perjalanan itu tidak terasa.

Akhirnya kami sampai, jauh memandang terlihat laut yang begitu biru dan menyejukkan. Segera kami bergegas untuk persiapan acara persekutuan kami. Dan persekutuanpun dimulai.

Sssttttttt persekutuan sedang berlangsung….

Selesai persekutuan kami makan siang bersama, ikan cakalang bakar sudah siap kami santap, tapi saya  melihat semua tidak terlalu menikmati makan siang ini, bukan karena makanan yang kurang enak atau apa, tapi semua teman-teman sudah terlihat tidak sabar untuk segera menuju pantai.

Selesai makan dan kami bersiap untuk kepantai, semua langsung berganti kostum masing-masing. Beberapa rekan tetap tinggal di tempat makan, beberapa rekan sibuk menyiapkan kamera mareka, dan lebih banyak rekan yang sudah berlari duluan ke pantai untuk bermain air.

Saya juga segera berjalan ke bibir pantai Depok, melihat, dan bersyukur untuk semua berkat yang sudah Tuhan beri bagi saya dan bagi kami. Berjalan di atas pasir hitam yang basah dengan terik yang cukup panas siang itu. Akhirnya saya menceburkan diri ke air.

Dan disinilah akhirnya terjadi hal yang tidak saya inginkan. Sebelum saya ke air, saya sudah menitipkan Hp dan dompet saya, saya merasa ini cukup save untuk saya bermain air. Tapi ada satu hal yang sala lupa titipkan KACA MATA, yang tetap saya pakai.

Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, semua aman terkendali. Dengan teman yang lain saya duduk dan menunggu disapu oleh ombak lalu kembali ke pinggir lagi. Hingga pada satu kesempatan ada ombak yang cukup besar menyapu kami, pada sapuan pertama saya masih save dengan kaca mata yang saya pakai, tapi yang terjadi sebelum saya kembali menuju tepi saya disapu oleh ombak ke dua yang ternyata lebih besar, dan tentu saja saya tergulung hingga jauh dari tepi. Semua di air, sulit bernafas, dan kebingungan, hingga saya bisa keluar dan satu hal yang saya sadari KACA MATA saya sudah terlepas. Langsung panik dan berusaha mencari disekitar saya berdiri, tapi tetap saja tidak ketemu, beberapa rekan membantu dan tetap saja tidak ketemu. Akhirnya dalam hati saya berkata…. Selamat jalan kaca mataku, aku akan selalu mengenang setiap kebersamaan kita selama ini…. :’(

Sudah kepalang basah, akhirnya saya melanjutkan kegiatan dipantai, beberapa saat kemudian saya mengajak rekan yang lain untuk segera kembali karena ada perjalanan lagi yang harus kami tempuh.
Benar saja, sisa perjalan di Jogja tidak bisa saya nikmati dengan sepenuh hati. Saya jadi tidak bisa memandang dengan jelas, jadi mual, dan tentu saja sangat pusing.

Syalom,
Pengalaman ini sangat bermanfaat bagi saya, ketika saya tiba dirumah saya segera merenung, ada pelajaran apa yang bisa saya ambil. Saya mengambil Laptop dan saya menulis catatan ini

Kita hidup didunia ini, menjalani tiap sisi kehidupan yang sudah Tuhan beri, dengan semua Anugrah dan Kedamaian yang sudah Tuhan taruhkan atas kehidupan kita. Tapi pada sisi lain, sukakah si jahat dengan ini semua? Tentu tidak

Sebagai anak Tuhan kita harus terus berjalan beriringan dengan semua yang Tuhan mau itu kita lakukan dalam kehidupan ini, melihat semua sama seperti yang juga Tuhan lihat.

Seringkali kita jatuh pada apa yang dunia tawarkan, kbohongan, iri, dengki, dsb. Itu yang membuat kita merasa sangat jauh dengan Tuhan.

Lantas sebenarnya apa yang harus kita lakukan? Cara terbaik adalah kita harus memiliki hati dan mata seperti yang Tuhan punya. Belajar mengerti setiap kemuan Tuhan dalam kehidupan kita. Pada akhirnya Firman Tuhan akan membawa kita pada kesiapan diri yang lebih baik untuk menghadapi ancaman dari si jahat.

Setiap taburan Firman Tuhan memberi perspektif yang sama seperti apa yang Tuhan lihat. Sudut pandang dan penilaian kita tidaklah cukup mampu untuk menjaga kita dari semua dosa. Dengan memakai sudut pandang Allah, maka kita akan menjadi kuat. Semakain banyak kita merenungkan Sabda Tuhan, semakin tekun kita berdoa, semakin rutin kita bersaat terduh, semakin suka kita membaca Alkitab, maka kita akan semakin kuat untuk memakai sudut pandang Allah dalam kita menjalani kehidupan kita.

Jika tidak, maka seperti saya kehilangan kaca mata saya sehingga semua pandangan saya menjadi kabur dan tidak jelas, maka kita juga akan terncam ditipu oleh si Iblis dengan dosa. Kita tidak mampu melihat dengan jelas semua kehendak Tuhan dalam kehendak Tuhan.

Jangan pernah jauh apalagi melepaskan perspektif Allah, tetap menjadi kuat dalam Dia, maka kita akan semakin bijak untuk menjadi garam dan terang dunia bagi orang lain.

Tuhan Memberkati

kaca mata, aku kangen kamu :’(
Read More >>

Selasa, 17 April 2012

Ibuku Bermata Satu


Alkisah...

Ketika anak laki-lakinya pergi sekolah SD, si ibu datang ke sekolah untuk melihat anaknya. Tapi apa yang terjadi, si anak laki-lakinya jadi malu karena diolok-olok oleh teman-teman, karena dia mempunyai ibu bermata satu. Sesampai di rumah si ibu dimarahin oleh si anak. Sejak itu si ibu tidak dibolehkan ketemu orang-orang lain agar si anak tidak malu.

Setelah anaknya dewasa, si anak telah bekerja dan sukses, dan sudah berkeluarga dan mempunyai istri yang cantik dan anak yang lucu.... si ibu rindu ingin bertemu dengan anak dan cucunya. Sesampai di depan pintu rumah anak laki-lakinya, dia diusir oleh anaknya sendiri, seraya berkata: “untuk apa kamu datang kesini orang tua bermata satu, kamu telah menakutkan anak-anakku” kata si anak. Akhirnya, si ibu pulang dengan bersedih hati. Dia akhirnya hanya melihat cucu-cucunya di depan pagar, lalu pergi.

Sekian lama waktu berlalu, si ibu akhirnya sakit dan sepertinya tidak akan lama lagi umurnya. Dia memberi tahukan berita ini kepada anak laki-lakinya itu, bahwasanya dia sedang sakit parah. Tapi, si anak laki-lakinya tetap tidak mau ketemu ibunya. Ajalnya pun menjemputnya.

Selang beberapa waktu, si istri dari si anak laki-laki bertanya ke suaminya: “mengapa kamu tidak datang ke rumah ibumu?”


Dia menjawab: “saya sedang sibuk”. Tapi akhirnya, dia dibujuk oleh istrinya, agar pergi ke rumah ibunya tersebut sekali saja karena ibunya sudah tiada.

Akhirnya si anak laki-laki pergilah ke rumah almarhum ibunya, dia masuk ke rumah yang telah lama dia tinggalkannya, dan ada secarik kertas yang ditinggalkan oleh ibunya berisi: "anakku, aku sangat bahagia melihatmu dari kecil, sampai dewasa dan mlenjadi sukses sekarang ini. ketahuilah nak, bahwasanya kamu kecil hanya mempunyai mata satu, aku telah merelakan mata yang satu lagi diberikan kepadamu, agar kamu bisa hidup bahagia nantinya".

Si anak akhirnya, menanggis sijadi-jadinya: “oh..ibu.............maafkan aku selama ini”.
(cerita ini saya ambil dari google, dengan sedikit perubahan)


Bro..sist..

Saya tidak sedang membuat anda menangis atau terharu dengan cerita ini. Saya hanya berdoa agar kita tidak mengalami hal yang sama dengan anak laki-laki tersebut. Sadarkah, betapa luar biasanya orang tua kita? Yang dengan penuh kasih sayang merawat hingga kita sebesar ini? mungin kalimat itu sudah sering anda dengar namun sudahkah kita memberi respon yang baik atas kalimat itu?

Mari, mulai saat ini kita memberikan bagian kita sebagai seorang anak kepada orang tua kita. Secara penuh dan utuh. Kita tidak tengah mencoba membayar hutang atas apa yang sudah dilakukan orang tua kita bagi kita, kita hanya sedang berusaha menjadi anak yang penuh dengan kasih, agar penyesalan tidak menghampiri kita.

Jesus Bless
Read More >>

Pernikahan Kuda dan Kerbau

Saya pernah bertanya kepada diri saya sendiri, kelak isterikau seperti apa ya? apa cantik dan berkaca mata seperti yang ku impikan? Apakah ramputnya ikal dengan kulit yang sedikit gelap? Hehehe, entahlah sampai sekarang saya masih mendoakan calon isteri saya tersebut. Saya hanya berprinsip bahwa satu syarat mutlak yang harus dimiliki calon istri saya adalah bahwa dia adalah seorang yag takut akan Tuhan, menjadikan Tuhan nomor satu dalam hidupnya jadi aku jadi yang kedua deh J

Saya teringat dengan sebuah percakapan bijak antara seorang anak dengan ayahnya, percakapan yang selalu dapat menginspirasi saya, seperti ini kurang lebih percakapan mereka

Anak : yah, jika saat ini aku berteman dengan lelaki yang berbeda keyakinan dengan saya bagaimana yah?

Ayah : tentu saja boleh nak, kenapa tidak? Kamu boleh memiliki banyak teman dan sahabat dan kamu tidak boleh membedakan mereka karena keyakinan mereka?

Anak : yah, kalau kelak pacarku adalah seorang yang beda keyakinan denganku, apakah itu juga boleh yah?

Ayah : (mulai terlihat bingung, tapi berusaha tetap bijak) tentu saja boleh anakku, kenapa tidak? Kamu boleh berpacaran dengan siapapun asal dia bisa menjagamu?

Anak : (sedikit terkejut dengan jawab ayahnya) emmm, yah, kalau kelak aku menikah dengan orang yang keyakinannya tidak sama denganku, apakah aku masih boleh yah?

Ayah : (terpojok  dan mulai bingung dengan pertanyaan anaknya tapi tetap berusaha bijak) tentu saja boleh anakku, kamu boleh menikah dengan laki-laki yang berbeda keyakinan denganmu, asal dia bisa membahagiakan kamu dan menjaga anak-anakmu kelak

Anak : boleh yah? Asik

Ayah : tapi, ayah mau bertanya dulu. Kamu pasti tahu kan sebuah kereta kuda? Biasanya ditarik oleh dua kuda, tapi jika kamu mengganti salah satu kudanya dengan seekor kerbau, apakah bisa sayang?

Anak : tentu saja bisa yah

Ayah : yap, benar, pasti bisa, tapi pakah keduanya bisa berjalan beriring dengan baik dan tidak saling meninggalkan satu dengan yang lain?

Anak: tentu tidak yah, kuda larinya cepat sedang kerbaukan binatang yang lambat

Ayah : nah itu kamu tahu. Pernikahan itu ibarat sebuah kereta itu anakku, kamu dan suamimu kelak adalah kuda yang menariknya. Jika ternyata kamu dan suamimu tidak sama, apakah nanti kereta rumah tanggamu akan bisa berjalan dengan baik? Tentu tidak bukan? Semua tergantung pilihanmu saat ini, apakah kamu kelak ingin bahagia, atau tidak. Perbedaan keyakinan sama dengan perbedaan keyakinan dan visi hidup, jika kamu dan suamimu tidak memiliki hal sama, tentu akan sangat sulit untuk berjalan beriring mencapai kebahagiaan kehidupan,, kamu mau?

Anak : iya yah, aku paham

Bro..sist..

Percakapan fiktif ini hanya penggambaran bagaimana kita akan terus dituntut untuk menjadi bijak dan kuat dengan pilihan kehidupan hidup kita. Jangan sampai kita nekat dan salah memilih dengan pasangan hidup kita kelak. Mulai sekarang, jadilah bijak. Doakan pasangan kita kelak, agar kita bahagia, di dalam DIA..

Jesus Bless

(saya masih mendoakan perempuan berkacamata tersebut..siapa dia ya..) 
Read More >>

Minggu, 15 April 2012

Saya "NGIDAM"???

Apa yang pertama kali terbayang dalam fikiran anda ketika mendengar kata “ngidam”? mungkin kata pertama yang muncul dan ada difikiran kita adalah wanita hamil, dan jika itu yang anda fikirkan berarti sama dengan yang saya fikirkan juga. Iya, ngidam merupakan keinginan sesaat yang seringkali sangat aneh yang dialami oleh wanita yang tengah hamil.

Saya tidak begitu paham, secara ilmiah apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Beberapa contoh mungkin sering anda dengar bahwa para ibu seringkali memiliki keinginan yang sering tidak masuk akal. Ada yang minta rujak ditengah malam atau minta wedhang jahe di tengah hari. Ada yang minta pegang kepala orang lain, dan tentu masih sangat banyak. Beberapa kasus malah tampak menjadi ekstrim, seperti yang terjadi pada tetangga saya, bahwa dia bilang kepada suaminya bahwa dia sangat ingin mangga, mudah kan? tapi yang bikin sulit adalah dia minta mangga itu diambil suaminya sendiri dengan memanjat pohon plus harus mangga curian, jadi ketika memetik yang punya mangga tidak boleh tahu. Berikutnya yang membuat saya tertegun adalah wanita hamil tadi bisa mengetahui jika mangga yang dibawa suaminya bukan hasil curian tetapi meminta (sampai sekarang saya masih heran). Satu lagi, ada ibu yang hamil anak keduanya minta memegang kepala (lokomotif) kereta, dan lebih hebatnya lagi dia mintanya jam 01.00 pagi,waw hebat. Menurut tradisi yang ada, jika keinginan wanita tersebut tidak dipenuhi maka ketika nanti anaknya lahir maka anak tersebut akan ngiler (keluar air liurnya terus), jadi cacat, nakal, dan sebagainya. Percaya tidak percaya, tapi saya sangat tertarik dengan hal-hal itu.

Sama seperti yang tengah saya alami. Lho….memang saya tidak ngidam, tapi entah mengapa 2 hari ini saya sangat ingin makan jajanan waktu saya masih kecil dulu. Cukup aneh memang, tapi sejujurnya saya tidak pernah tau sampai sekarang mengapa saya memeliki keinginan tersebut.  Sempat kesulitan mendapatkan jajanan tersebut hingga akhirnya tadi sore saya mendapat jajanan tersebut, spesial thanks buat Shinta yang sudah mencarikan buat saya. Segera saya makan saja jajanan tersebut.

Bro..sist..

Saya belajar satu hal dari hal tersebut, untuk banyak hal yang kita ingini terkadang kita akan melakukan segala hal agar keinginan tersebut dapat kita penuhi. Segala usaha agar kita tempuh, karena kita memang menginginkannya. Tapi seringkali kita tidak cukup bijak untuk menentukan. Kenyataannya keinginan daging lebih kita perhatikan dari pada keinginan roh. Benar? Renungkanlah..

Dalam tulisan saya kemarin, PesanKu Untukmu, saya menulis bahwa kita harus bersegera berkomitmen untuk membaca surat dari Tuhan. Dan saat ini saya berkomitmen untuk “ngidam” membaca Alkitab secara utuh, urut, dan menyeluruh. Karena saya ngidam, berarti saya akan berusaha dengan segenap kemampuan saya untuk memenuhinya.

Maukah anda “ngidam” hal sama seperti yang saya rasakan malam ini?

Jesus Bless
Read More >>

PesanKu Untukmu


Berangkat PRKJ (Persekutuan Remaja Kristen Jebres) ditemani hujan yang masih cukup deras memang, saya sendiri tidak berani nekat karena tadi gitar yang dirumah mau dipinjam untuk dipakai mengiringi pujian di persekutuan. Setelah dirasa cukup reda saya memberanikan diri untuk berangkat dan ketika sampai di Gereja, acara memang belum dimulai. Ada sedikit waktu untuk prepare mendampingi adik-adik remaja persekutuan.

Acara hari ini adalah Lokakarya Bible Reading oleh mas Wien, jadi kita diajar bagaimana untuk bisa mulai menyediakan diri untuk membaca Alkitab secara rutin. Acara berlangsung sangat lancar hingga tadi selesainya agak mundur, yakni jam 20.20 padahal biasanya jam 8 kurang kami sudah selesai.

Ada satu hal yang ingin saya bagikan. Saya tertarik dengan perumpamaan yang dipakai oleh mas Wien dalam penyampaian materinya, jadi kurang lebih perumpamaannya seperti ini:

Pernahkan anda menulis sebuah surat? Dan ketika anda menulis surat tersebut, apa yang anda ingin sampaikan kepada orang yang anda kirimi surat? Jawaban memang akan sangat bervariasi, berbeda antara satu orang dengan yang lain, tapi saya rasa anda akan setuju jika saya menjawab bahwa yang ingin anda sampaikan kepada penerima surat adalah sebuah PESAN, bisa juga NARASI (bercerita), bisa juga UNGKAPAN HATI, bisa juga HARAPAN dan bisa juga sebuah DOA bagi penerima.

Pernahkah anda menerima sebuah surat? Dan ketika anda menerima sebuah surat, apa yang akan anda lakukan? Apakah hanya diam tanpa ada usaha untuk mengambil, merobek bungkusnya, dan membaca surat tersebut anda akan bisa memahami penuh isi surat tersebut? Tentu tidak bukan? Ada hal yang sebebarnya sangat mudah dan sederhana agar kita bisa mengetahui isi surat tersebut, yakni bangkit berdiri, ambil surat tersebut, buka bungkusnya, duduk tenang dan bacalah isinya dengan seksama, maka kita akan mengetahui maksud dan isi surat tersebut.

Bro..sist..

Bukankah Alkitab yang saat ini kita miliki adalah juga surat yang Tuhan tulis untuk kita? Didalamnya Tuhan membawa sebuah PESAN kehidupan bagi kita, terhampar NARASI kisah panjang perjalanan keagungan dan karyaNya yang nyata, tertulis dengan rapi tiang UNGKAPAN HATI yang Dia rasakan, terlihat jelas HARAPAN yang sungguh telah Dia taruhkan bagi kita, dan rangkaian DOA dari kerinduanNya bagi kita anak-anak yang begitu dikasihaniNya.
Tapi apa yang terjadi? Masihkah Alkitab hanya menjadi identitas yang memang selayaknya ada dalam tas setiap orang percaya? Atau Alkitab masih terus diam setia tertata rapi di rak buku untuk menunggu kita membukanya? Jika demikan, maka bagaimana kita bisa memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita?

Tidakkah kita merasa bahwa kita harus bersegera mulai membaca Alkitab dengan lebih rutin dan lebih berkualitas lagi? Semua petunjuk kehidupan ada didalamnya, semua obat dari rasa sakit ada didalamnya, semua jawab dari kerinduan kita juga ada didalamnya.
Maukah kita mulai berkomitmen untuk rutin membaca Alkitab setiap hari? Agar kita mengerti dan memahami pesan yang Dia bawa bagi kita. Hanya perlu sebuah perubahan kecil yang nyata untuk dapat lebih dekat dengan Tuhan melalui Alkitab, yakni berdirilah, ambil Alkitabmu, duduk tenang, baca dan pahami maksudnya.

Mulai kapan? SEKARANG

Jesus Bless
Read More >>

Jumat, 13 April 2012

BERSYUKUR....


Ada satu pepatah yang mengatakan jika rumput tetangga akan selalu nampak lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Entah maksud sebenarnya seperti apa tapi yang jelas saya pahami adalah bahwa apapun yang orang lain miliki akan nampak lebih indah dan lebih baik dari semua yang kita miliki. Pada kesempatan yang lain peribahasa ini dialih kiaskan oleh salah satu produk dagang di Indonesia. Oleh creative team dari produk tersebut digambarkan mengenai sekelompok kambing yang tengah makan rumput di suatu tempat , hingga salah satu dari kambing itu mengintip rumput yang ada disebelah pagar dan ternyata rumput yang dilihatnya adalah rumput yang nampak sangat hijau dan segar untuk dinikmati. Lalu bersama beberapa kambing lain,yang berhasil dibujuknya, ia berusaha memanjat pagar agar bisa menyeberang ke seberang. Pada akhirnya mereka berhasil menyeberang, namun sayang, rumput yang nampak hijau dan segar itu ternyata adalah rumput palsu yang tidak bisa dimakan dan lebih parah disana juga ada seekor singa yang siap memangsa mereka.

Sore tadi saya berkunjung ke panti asuhan SILO di Karanganyar. Bersama-sama anak usia SMP, SMA, dan PT di PPA kami merayakan Paskah bersama anak-anak panti asuhan ditempat tersebut. Jam 1 saya harus sudah sampai di kantor untuk persiapan beberapa hal kecil sekalian cek terakhir. Jam 2 lebih sedikit kami berangkat, tidak terlalu jauh memang sehingga jam 3 kurang sedikit kami udah sampai. Acara dibuat seperti persekutuan biasa. Berjalan lancar, anak-anak menikmati dan mereka bisa saling berbaur. Kunjungan kami segera selesai setelah kami berfoto bersama dengan anak-anak panti asuhan SILO.

Tidak ada yang spesial memang tapi saya bersyukur karena saya memiliki waktu untuk berdiam, merenung, mengamati mereka, dan mendapat hal baru.

Saya sadar satu hal bahwa ternyata saya memang belum terbiasa untuk terus bersyukur untuk segala hal yang saya miliki. Saya sering menggerutu karena makan tidak enak, bayar kuliah telat, tidak punya uang saku, dan lain sebagainya. Menilik kehidupan anak-anak SILO seharusnya saya malu dengan mereka. Untuk makan mereka kadang tidak punya pilihan, untuk biaya sekolah mereka sangat sering untuk dipermalukan karena keterlambatan pembayaran, untuk uang saku saya yakin mereka lebih sangat kekurangan dari pada uang saku yang saya dapatkan, dan lebih hebat adalah ketika mereka mampu bersyukur untuk semua itu.

Bro..sist…

Benar jika kita melihat rumput tetangga selalu nampak lebih hijau daripada rumput yang ada pada halaman rumah kita sendiri, walaupun kenyataannya itu belumlah tentu benar karena saat itu kita menilai dari perspektif yang salah, dari kelemahan dan kekurangan kita.

Berapa kali kita mengeluh saat hendak berangkat sekolah atau kerja kita tidak menemui sarapan dimeja makan? Masih seringkah kita mengeluh saat ayah telat menjemput kita pulang sekolah sehingga kita menunggu terlalu lama? Atau berapa kali kita menggerutu dalam hati jika masakan yang disediakan ibu bukan masakan yang kita sukai? Dan tentu masih banyak hal lain dimana seringkali kita mengeluh
Sebenarnya yang seringkali menjadi sangat sulit adalah ketika kita hanya fokus untuk mengeluh tanpa ada kesempatan bagi syukur untuk hadir dalam pemahaman kita.

Allah kita Allah yang mengerti dan mengasihimu, bahkan saat semua nampak tidak menyenangkan bagi kita, itu adalah yang terbaik bagi kita oleh DIA….belajar bersyukur sampai kapanpun…bersyukurlah…

Jesus Bless..
Read More >>

Kamis, 12 April 2012

Lemper atau Arem-arem??

 Dari dua makanan ini mana yang lebih anda suka? Lemper atau Arem-arem? Bagi sebagian besar orang (khususnya etnis Jawa) pasti memahami dengan persis perbedaan kedua makanan ini, tapi yang luar jawa mungkin tidak tahu beda jelas dari kedua makanan itu. Secara kasat mata kedua makanan ini bentuk dan penampakannya sama, yakni sama-sama dibungkus dengan daun pisang lalu kedua ujungnya di tujuk pakai lidi (walau sekarang sudah banyak yang pakai streples). Namun yang menjadi pembeda adalah ketika kita sudah membuka bungkusan itu. Lemper berisi beras ketan sedang Arem-arem berisi beras biasa (nasi). Lemper biasanya berisi abon sedang Arem-arem biasanya berisi telur puyuh atau daging, walau sekarang banyak variasi yang biasa kita temui isi dalam kedua makanan ini. untuk ukuran, Arem-arem biasanya berukuran lebih besar dari pada lemper (saya tidak tahu alasannya mengapa). Nah, bagi yang belum pernah melihat atau merasakan, silahkan dibayangkan sendiri ya…
Keduanya sama enaknya, tapi jika boleh memilih maka pilihan saja lebih condong ke Arem-arem, entah kenapa yang jelas saya lebih suka dari pada lemper. Bagaimana dengan anda?

Mungkin aneh, mengapa saya tiba-tiba menulis tentang kedua makanan ini. sederhana, yang ingin saya sampaikan adalah mengenai pilihan. Jika kita hanya mendapat satu kesempatan untuk memilih, makan mana yang akan kita pilih dari kedua makanan yang sama-sama enak tersebut, dan mungkin juga sama-sama kita sukai tersebut?

Tidak sama persis memang, tapi sedikit banyak kita akan sering menemui pilihan-pilihan yang dilematik seperti ini dalam perjalanan kehidupan kita. Kita dituntut untuk memilih satu dari beberapa hal yang terlihat sama penting dan sama baiknya bagi kita. Pilihan sekolah, pilihan kerja, pilihan pacar, pilihan pasangan hidup, dan lainnya akan kita hadapi. Bahkan hal yang lebih sederhana dapat kita lihat, seperti ketika sedang hendak pergi, kita akan memilih juga antara kemeja putih dan kemeja biru. Ketika sedang sakit, kita akan memilih antara obat A dan obat B. Ketika malam, kita memilih tidur jam 9 atau jam 12. Ini semua tentang pilihan.

Bro…sist…
Ketika kita sedang berada pada posisi tersebut, posisi memilih, sudahkah Tuhan menjadi pribadi yang kita libatkan dalam usaha kita memilih? Atau kita sering kali masih menggunakan rasio kita sendiri untuk menentukan pilihan tertentu?

Memang benar, ketika hendak makan Lemper atau Arem-arem kita tidak perlu meminta dan menunggu jawaban dari Tuhan untuk mengetahui mana makanan yang seharusnya kita makan. Tapi untuk hal lain?
Yang sedang ingin saya sampaikan adalah mari saat ini kita belajar untuk berdoa dan mengajak Tuhan terlibat dalam setiap putusan peilihan-pilihan kehidupan kita. Agar kita tidak salah memilih, karena Dia yang memiliki kehidupan kita dan Dia tahu atas semua hal yang terbaik bagi kehidupan kita
Jesus Bless

(renungan mengenai PILIHAN akan ditambah terus di kesempatan yang lain)
Read More >>

Mandi, mandi, dan mandi

Jam masih menunjukkan pukul 06.00 dan mata saya masih terasa sangat berat. Badan juga masih terasa sangat capek. Bisa dikatakan semalam saya nyaris tidak tidur. Setelah sedikit sibuk dengan kerjaan di kantor sebebnarnya saya berniat untuk tidur, saat itu pukul 00.10-an. Tapi langsung saya urungkan, karena udah kepalang basah terjaga dan saya baru teringat bahwa nanti klub favorit saya main dan disiarkan live di salah satu chanel tivi nasional, yup pagi tadi Juventus bermain melawan Lazio. Sembari menunggu main saya ganti baju jerseynya Juventus (fans berat) sembari utak-atik netbook. Tidak sia-sia karena akhirnya Juventus menang 2-1, Forza Juventus..

Nadia terus berteriak tidak karuan, mengganggu waktu tidur saja yang baru sebentar saja. Tidak seperti biasanya, hari ini dia minta mandi disini sama ibu saya. Akh, ada-ada saja. Kebetulan saya sedang keluar ketika ibu memandikan Nadia, namanya juga anak kecil jadi polahnya ya banyak sekali, hal yang buat ibu jadi agak marah karena takut Nadia telat berangkat ke Play Group. Selesai mandi masih saja ribet dengan lari sana lari sini. Masih basah tapi tidak mau di keringke pake handuk (mungkin mintanya di jemur: bercanda)

Ada hal baru yang buat saya terdiam untuk merenung. Bukan hal hebat atau hal besar, tapi setidaknya hal kecil ini membuat saya memahami satu hal baru. Yang saya amati adalah bahwa setiap orang setelah mandi dan hendak mengeringkan badannya, maka yang akan dikeringkan lebih dulu adalah rambutnya dulu, kepala, badan, tangan, kemudian baru kaki. Mungkin anda bingung dengan perenungan saya, tapi itulah yang saya lihat.

Jawaban langsung muncul dari pertanyaan sederhana itu. Mengapa hampir pasti semua melakukan itu?
Jelas semua mengeringkan rambut dan kepala dulu dari pada yang lain, karena air mengalirnya ke bawah, maka bagian atas harus dikeringkan dulu sebelum bagian yang lain karena jika tidak maka tentu bagian lain yang sudah dikeringkan akan kembali basah akibat air dari rambut menetes kebawah. Coba fikirkan, badan yang sudah dikeringkan lebih dulu akan menjadi sia-sia jika air di rambut masih terus menetes kebawah mengenai badan lagi.

Lantas apa yang spesial??

Kita ibaratkan bahwa air adalalah dosa, dosa yang harus dikeringkan. Maka dengan sederhana akan muncul pemahaman seperti ini. banyak orang telah berdosa lantas dengan mudah meminta pengampunan dan menyelesaikan dosa tersebut, tapi dengan segera dan dengan cepat orang akan kembali mengulangi dosa tersebut. Hal ini terjadi berulang dan terus menerus. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena sebenarnya mereka hanya bembersihkan air (dosa) yang kecil yang merupakan efek dari dosa yang lain yang lebih besar pengaruhnya, yakni dosa (air) dari kepala tadi. Akan terus berlanjut dan tidak akan menjadi kering jika air yang ada dikepala tidak dikeringkan dulu.

Bro..sist…

Apakah saat ini kita tengah mengalami hal yang sama? Kita merasa begitu mudah terjatuh pada dosa dan kesalahan yang sama, tidak pernah ada daya lebih ketika kesalahan itu dihadapan kita sehingga kita sering terjatuh.

Sebenarnya yang harus kita lakukan adalah berdiam sejenak, untuk mengevaluasi diri kita untuk kemudian meminta Kristus menyucikan kita dari dosa yang telah mengikat kita. Biarkan DIA mengambil dosa tersebut dan bagian kita adalah tetap menjadi kudus dan bersih selama kita hidup didunia ini.

Pengampunannya nyata, dan pengorbannya sungguh mulia…jadilah anakNya yang bersyukur dalam menyelesaikan setiap tantangan kehidupan dan jadilah pribadi yang santun dalam Dia

Jesus Bless
Read More >>
Technology Blog