Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

KALAH? WHY NOT?

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengantar anak turnamen Futsal. Sedang ada Olimpiade Cluster untuk PPA se-Solo raya. Begitupun dengan anak-anak yang beberapa minggu sebelum pelaksanaan turnamen begitu bersemangat.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham dengan Futsal, hanya karena kebetulan pelatih anak-anak tidak bisa mendampingi maka saya yang harus menemani. Pelatih sebenarnya cukup yakin dengan kemampuan anak-anak untuk berbicara banyak pada turnamen kali ini, bahkan berkali-kali pelatih menekankan minimal anak akan masuk Final. Saya senang dengan rasa optimis yang dimiliki pelatih kami. Sembari kami berbincang, pelatih menyerahkan semua nama pemain Futsal serta siapa saja yang nanti akan turun pertama dalam pertandingan.

Anak-anak juga terlihat sangat antusias dan terlihat begitu siap dengan pertandingan yang akan dihadapi. Satu-satunya hal yang membuat pelatih khawatir hanya soal siapa yang menjadi Penjaga Gawang, anak yang biasa ada diposisi tersebut sekarang sudah kelas 1 SMA sehingga otomatis tidak bisa kami ikutsertakan mengingat batas peserta maksimal adalah kelas 3 SMP. Opsi kedua-pun tidak mesti berjalan dengan baik, karena kiper ke dua kami sudah jauh-jauh hari mengatakan jika pada hari pelaksanan kemungkinan tidak bisa ikut karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya dengan terpaksa kami memainkan kiper ke 3 dan pemain yang dipaksakan menjadi kiper. Keseluruhan, dari jatah 10 pemain yang bisa didaftarkan, kami hanya mengirimkan 7 nama untuk bertanding.

Hari pertandingan pun tiba, kami bertanding dengan PPA dari Klaten dan kick off jam 17.00 WIB. Kami berangkat naik dengan menyewa angkuta ke lokasi Turnamen. Perjalanan terasa begitu lama dan jenuh, macet karena mungkin jam kami berangkat sama dengan jam pulang kantor. Saya duduk didepan sedang seluruh anak dibelakang. Sedari berangkat anak terus saja saling berbincang tentang strategi apa yang akan mereka gunakan nanti, siapa yang akan didepan, siapa yang akan menjadi eksekutor tendangan bebas, dan banyak hal. Dari depan sesekali saya hanya menengok kebelakang dan kembali menghadap kedepan dengan senyuman kecil. “ahh, ini hari besar bagi mereka” gumamku.

Sampai dilokasi, saya hanya memberikan instruksi sederhana pada anak-anak, agar mereka segera memakai sepatu dan melakukan pemanasan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Anak-anak pun melakukan demikian, sedang saya harus menyelesaikan beberapa keperluan administrasi dengan panitia pertandingan dan wasit. 

Sesuai intruksi dari pelatih kami, saya memainkan 5 anak yang telah dipilih, sedang 2 yang lain harus bersiap dari bangku cadangan. Setelah beberapa instruksi dari wasit, akhirnya pertandingan dimulai.
Pertandingan dimulai dengan baik, anak-anak bermain sesuai dengan intruksi yang sebelumnya saya berikan dan PPA Klaten pun juga melakukan demikian. Permainan berimbang dan tidak ada yang terlihat dominan, kami saling berganti dna dalam melakukan penyerangan.
Gol yang ditunggu akhirnya terjadi juga, silih berganti pula. Kami saling berbalas gol dengan PPA Klaten. Permainan juga sangat menghibur, anak-anak saling menghormati didalam lapangan. Jangankan bermain kasar, bermain keras-pun kedua tim tidak melakukan. Dari luar saya memberikan instruksi sembari berbincang dengan official PPA Klaten dan juga wasit. Kami bersukacita bersama. Namun sebelum babak pertama selesai, ada sedikit kejadian yang tidak bisa kami hindarkan, karena begitu kerasnya tendangan dari PPA Klaten, tangan dari kiper ketiga kami cidera. Untuk mencegah hal lebih parah, akhirnya saya menariknya dan mengganti dengan pemain lain. Ryan, tampak kesakitan dan hanya memegangi pergelangan tangan kirinya, khawatir akhirnya saya dan rekan lain membawa anak ke Rumah Sakit untuk mendapat perawatan lanjutan yang memadahi. Babak pertama selesai dengan skor sama kuat, 4-4.

Untuk babak kedua, saya khawatir dengan kiper pengganti. “Apa dia bisa?”
Pertandingan pun dimulai kembali, dan seperti sebelumnya permainanpun berjalan seimbang. Kami saling berbalas serangan dan saling berbalas gol. Pertandingan nampaknya akan diselesaikan dengan babak adu pinalti, hingga akhirnya ketika waktu tersisa 2 menit PPA Klaten berhasil mengungguli kami, dan hingga pertandingan selesai tim kami tidak bisa membalas gol tersebut. Pertandingan akhirnya dimenangkan PPA Klaten dengan skor 8-7. Permainan yang baik.
Sisi lain, saya sempat berbincang dengan official wasit, dan merka mengatakan “tim-mu mainnya sangat bagus mas, tapi saying kipernya kurang bagus, sehingga mudah kebobolan dengan gol yang simpel” saya pun mengangguk, karena menurut saya memang demikian yang terjadi dilapangan. Dan juga, saya hanya memainkan 6 dari 7 anak yang kami bawa, terntu saja ini membuat anak-anak kelelahan di akhir pertandingan.

Tapi sekali lagi, apapun yang terlihat, nyatanya PPA Klaten berhasil mengalahkan kami. Selamat untuk PPA Klaten

Diluar hasil akhir yang harus kami terima, saya begitu tertarik dengan respon anak-anak pasca pertandingan. Selama perjalanan pulang mereka bercerita tentang jalannya pertandingan, dari mulai gol-gol yang terjadi hingga tentang kelelahan mereka. Ada satu kejadian menarik yang menurut saya sangat lucu, ditengah pertandingan salah satu anak kami menyentuh bola dengan tangan, tentu saja ini “hands ball” dan seharusnya dinyatakan pelanggaran, tapi karena wasit tidak melihat jadi pertandingan tetap dilanjutkan. Diposisi ini anak saya seharusnya juga tetap dilanjutkan, tapi yang terjadi anak tersebut malah melepas bola dan mengaku kepada wasit jika bola terkena tangannya. Haduh, anak-anak.

Hal yang juga sempat membuat saya tersenyum adalah anak yang dicadangkan dan tidak mendapatkan kesempatan bermain pun bisa berbesar hati dengan keputusan ini dan rekan yang lain memberi dukungan semangat pada dia. Walau sebelumnya pelatih mengatakan kepada saya, bahwa anak tersebut memang tidak semahir rekan yang lain tapi dia adalah yang paling rajin. Mengagumkan
Tapi yang lebih menyenangkan dan melegakan bagi saya adalah ketika mereka sepakat mengakui jika Klaten memang pemenang dan mereka juga bersepakat untuk berlatih lebih giat untuk mempersiapkan diri di turnamen selanjutnya. Kata mereka “kalah boleh, tapi ga boleh loyo” . Membanggakan

Saya belajar tentang banyak hal yang penting.
Terkhusus tentang bagaimana cara anak bersikap atas kekalahan mereka dan ketidakberuntungan mereka. Hingga saya terkagum dengan respon anak terhadap hal tersebut. Anak bisa melihat dari sisi lain tentang kejadian yang mereka alami, entah hal baik dan terlebih hal buruh yang harus mereka terima.

Menjadi seperti apa anak-anak kelak, kita akan memegang andil yang cukup besar untuk membantu mereka menemukan nilai kehidupan yang benar dimata Allah. Kita membantu mereka menemukan kebenaran yang mantab dalam Kristus. Bahkan ketika diluar tampak begitu menakutkan, mencekam, dan mengancam kenyamanan mereka.

Anak kita perlu menyadari bahwa saat ini mereka hidup di tengah-tengah banyak ketidakpastian dan ketidakadilab.

Mereka yang paling pintar dan belajar paling rajin belum tentu mendapat nilai terbaik dalam sebuah test, adakalanya mereka akan kalah dengan yang beruntung ataupun yang curang

Mereka yang berlatih paling keras belum juga tentu menjadi juara dalam sebuah pertandingan, adakalanya mereka akan kalah dengan yang beruntung ataupun yang curang

Mereaka yang paling rajin beribadah, berdoa, atau berbuat baik juga belum tentu memiliki kehidupan yang berlimpah, kenyataanya mereka kalah mapan dengan yang jahat dan yang korupsi

Apa yang seharusnya dilakukan dengan keadaan yang seberti ini?

Ada pepatah mengatakan demikian, bahwa “ Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses “, saya begitu setuju dengan pernyataan ini. Anak-anak kita perlu diberi kesempatan untuk melihat dunia ini dengan sebenar-benarnya, dengan segala kecurangan dan ketidakadilan yang sering kali malah menjadi nilai yang anut oleh banyak orang.

Mungkin tidaklah selalu salah jika pada satu kesempatan kita melakukan “pembiaran” ketika anak sedang berada dalam keadaan “dicurangi”, “kalah”, “terpuruk”, “terintimidasi”. Dengan kadar yang baik kita akan melihat respon anak akan stimulant tersebut, sembari kita menanamkan Nilai kebenaran kepada anak.

Entah kapan kita akan melihat anak-anak kita berhasil dengan pemahaman atas nilai kehidupan yang benar, tapi paling tidak kita dituntut untuk terus mengawasi anak berproses dengan peristiwa kehidupan yang mereka miliki. Tetap kita jaga tanpa harus melindungi anak dengan berlebihan, Tetap kita arahkan tanpa harus memanjakan anak secara berlebihan, tetap mendewaakan anak tanpa mengekang anak dengan ambisi pribadi kita.

Siapkah kita membantu mereka?

Read More >>

Selasa, 29 Desember 2015

Kita Sama

Nama saya Fajar Christian, saya lahir pada 6 November 1988, dan saya tinggal di Solo.

Saya akan bercerita tentang bagian kehidupan yang akan terus melekat dan akan terus menjadi kisah bagi saya. Tentang sebuah perjuangan kehidupan….

Saya lahir dalam kondisi keluarga yang biasa saja, jika boleh memilih kata yang lain akan saya katakana jika keluarga saya berada pada garis kemiskinan. Saya anak bungsu dari 6 saudara yang lain. Ketika itu Ayah saya hanya menjadi pelukis tradisional sedang Ibu saya hanya menjdai seorang penjahit dan kami tinggal pada sepetak rumah kontrakan kecil. Cukup menyedihkan? Tidak sama sekali

Saya terlahir dalam kondisi cacat fisik, kaki saya tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Keadaan yang semasa kecil tidak pernah benar-benar bisa saya mengerti. Keadaan yang membuat saya merasa berbeda dengan teman sebaya saya waktu itu. Saat yang lain sudah bisa berlari, saya masih harus belajar berjalan dengan kedua orang tua dan kakak-kakak saya. Saat yang lain sudah mulai begitu ceria mengendarai sepeda utnuk pertama kalinya, saya hanya bisa melihat dibalik jendela dan sesekali merasa iri mengapa saya tidak bisa seperti mereka. Keadaan yang sering membuat saya terpuruk sendiri di masa kecil saya.

Saya beruntung memiliki sosok ibu yang begitu luar biasa mencintai saya, ditengah semua beban kehidupan yang harus beliau usahakan, saya masih bisa merasakan cinta yang begitu penuh dari beliau. Fajar kecil begitu dimanja dan dijaga oleh ibu yang hebat.
Masa sekolah menjadi bagian waktu yang berbeda rasa dalam tiap kejadian yang saya alami. Masa saya berada di Sekolah Dasar terasa sangat berat, saya yang biasanya tidak pernah lepas dari pengawasan orang tua (terutama ibu) harus mulai belajar mandiri. 6 Tahun yang saya alamai di SD? Saya tidak bisa mengingat semua detail kejadian, tapi ada beberapa hal yang sampai sekarang masih saya ingat dan saya fikir akan terus saya bawa.

Seperti anak SD pada umumnya, seharusnya kami memiliki masa bermain dan belajar yang menyenangkan dengan teman sebaya, tapi apa saya mendapatkan itu? Tidak. Saya merasa begitu tersudut dengan ejekan dari teman-teman saat itu, tentu karena cacat fisik yang saya miliki. Saya masih ingat ketika saya sampai menangis karena diejek seperti itu, saya masih ingat ketika beberapa guru memarahi teman yang mengejek saya dan berusa menenangkan saya. Terasa begitu sakit dan membuat saya marah. Hal yang tidak jauh berbeda juga saya alami ketika berada di bangku SMP. Fajar saat itu adalah Fajar yang cengeng dan begitu sensitive, terlebih menjadi Fajar yang penyendiri dan tidak bisa berkembang. Tidak memiliki banyak teman dan lebih suka menghabiskan waktu dengan buku pelajaran dan beberapa buku komik Doraemon waktu itu.

Seiring dewasa tidak banyak tekanan dari luar yang saya terima, mungkin karena semakin dewasa juga teman-teman seiring pertambahan usia sehingga cacat fisik tidak dijadikan sebagai olokan bagi saya seperti di SD atau SMP.
Tapi justru di masa SMA ini terjadi peristiwa yang begitu memojokkan saya. Saya yang terlahir dlam kondisi cacat, saya yang tidak sampai usia SMA tidak bisa naik sepada, saya yang masih belum bisa benar-benar bangkit. Pada awal 2005 atau kelas 1 SMA semester 2, hal yang tidak pernah saya duga terjadi, saya nyaris lumpuh total. Begitu gelap dan menyakitkan ketika saya harus mengingat dan kembali ke masa itu. Secara medis, ini terjadi karena ada kerusakan di tulang belakang. Keluarga sudah mengupayakan dengan maksimal, mulai dari medis modern hingga pengobatan tradisional, smua nihil. Saya begitu terpukul, saya begitu tersakiti dengan keadaan tersebut. Saya begitu marah kepada Tuhan dengan semua, saya menggugat Tuhan dengan bertanya apakah cacat saya selama ini belum cukup membuat saya menderita dan mengapa saya harus sampai tidak bisa berjalan seperti ini. Saat seharusnya saya menikmati masa muda seperti yang lain, saya harus terpuruk lagi. Saya menjadi semakin rapuh. Saya menjadi iri dengan hal-hal yang tidak masuk akal, ketika melihat keluar jendela kelas, saya iri pada teman-teman yang bisa berlari kesana kemari sedang untuk berjalan pun saya tidak bisa.
Tapi saya bersyukur, perjuangan 2 tahun dengan tidak bisa berjalan telah membuat saya saya belajar banyak hal tentang arti kehidupan. Tentang betapa berharganya kehidupan yang sudah Tuhan berikan bagi saya. Tentang arti berjuang sebenarnya, berjuang bukan demi diri saya sendiri tapi juga demi Orang Tua saya.

Sekali lagi, sangat gelap jika saya harus mengingat masa itu, tapi saya bersyukur untuk semua proses yang telah saya alami.

Suka tida suka, para penyandang difabel sering mendapat intimidasi sosial secara otomatis. Sering dipandang sebelah mata, sering dinomor duakan, bahkan sering tidak dianggap. Tapi bukankah seharusnya diskriminasi seperti ini tidak boleh ada?

Saya senang saat ini Solo sudah sangat layak untuk mulai mengupayakan kesetaraan antara warga yang “normal” dengan para kaum “difabel”. Secara sederhana dapat dilihat dari kerja Pemerintah Daerah yang menyediakan fasilitas pendukung bagi kaum difabel, seperti halte, ruang public, atau fasilitas umum lainya. Kantor atau lapangan kerja yang adapun saya yakini sudah tidak lagi diskriminasi, asal sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, saya percaya para kaum difabel juga memiliki kesempatan bersaing yang sama untuk diterima bekerja.

Mengingat kembali ke masa sekolah saya, saya berharap sekolah saat ini juga mulai memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada seluruh siswa tanpa ada pembeda dengan alasan apapun, guru juga dituntut untuk berlaku adil dengan semua siswanya.

Saat ini saya bekerja sebagai Staff di PPA Berea GKI Sorogenen. Lembaga yang bergerak di bidang sosial dengan membantu anak-anak miskin untuk dapat terus bersekolah. Sedang kesibukan sehari-hari saya aktif sebagai seorang pemain music gereja di GKJ Jebres.

“Kami sama sepertimu, ajak kami berjuang untuk kehidupan yang lebih baik”
“fajar christian”
Read More >>

Rabu, 22 Oktober 2014

Secuil Remah Cerita dari acara Nongkrong Bareng

Melakukan hal baru di tempat yang baru selalu menjadi satu hal yang menyenangkan. Walau mungkin saja kita sudah sering melakukan ditempat yang lain.
Misal saja, mungkin pas kita lagi makan bakso dipinggir jalan itu, rasanya pasti ya normal-normal saja dan tidak ada yang spesial. Tapi jika kita makan baksonya di tengah jalan? masih biasa-biasa sajakah? tentu lebih penting untuk berfikir bagaimana bisa selamat dari ancaman bus yang lalu-lalang di jalan (kenapa juga kita makan bakso ditengah jalan – iya, saya mengigau)
Maksudnya tentu akan ada rasa canggung dan grogi jika kita harus melakukan hal baru di tempat baru, rasanya begitu asing.
Seperti yang baru saja saya lalui. Main musik akustik di acara Nongkrong Bareng dalam rangka Bulan Keluarga di GKI Sorogenen.
Entah karena apa dulu saya mengiakan ketika pak Anwar punya konsep untuk acara tersebut diisi dengan musik akustik sebagai Home Band itu. Yah, jika pernah ke cafe atau lihat Bukan Empat Mata, ILK, OVJ atau apalah. Jadi ada musik pengiring ketika nanti jemaat nongkrong, makan-makan, dan ngobrol di gereja.
“Oke, sip” jawab saya dengan semangat 45 ketika pak Anwar menawarkan ini kepada saya.
“tenanan lho dhe, musik akustik digarap sing apik” kata pak Anwar menegasgan
“Hmmm”
Dalam hati saya ini bukan hal yang susah, ini bukan hal yang benar-benar baru bagi saya. iya, di Gereja saya berjemaat, GKJ Jebres, saya sering juga melakukan ini. Bareng adhek-adhek remaja di GKJ Jebres saya biasa main musik akustik sembari menemani jemaat yang menikmati jamuan makan di Perjamuan Kasih setelah ibadah. Rasanya biasa, tidak membuat saya dek-deg na, apalagi sampai mimisan (lhooo). Mulai dari pegang gitar, Bass, atau bahkan vocalis. Biasa
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah main di salah satu restoran ternama di Solo, D’Colonels. Waktu itu tidak ada rasa grogi berlebihan ketika main akustik bersama #hashtag (nama band saya). Biasa saja

Dan sejujurnya setelah hanya kurang dari 1 minggu acara nongkrong bareng tersebut. Sibuknya pekerjaan dikantor dan kesibukan di GKJ Jebres seolah membuat saya lupa dengan acara ini.
Hanya konsep yang sudah saya fikirkan waktu itu. Ahh, nanti akan saya kerjakan seperti yang sering saya lakukan. Bermain dengan posisi 1 Keyboard, 1 Gitar, 1 Kajon, 1 Bass, 1 Vocalis, 2 Mangkuk Mia Ayam, 1 gelas es Teh.. (lhoooo- iya, saya mengigau lagi)
Sedang untuk lagu nanti gampanglah, paling hanya lagu yang biasa juga saya bawakan waktu main Akustik di GKJ Jebres. Lagu Allah Sumber Kuatku dan Mengejar HadirMu selalu jadi andalan untuk acara ini.

Tugas kedua adalah menentukan siapa yang akan saya ajak join dalam grup ini. Semula saya mau ajak pak Anwar yang main bass, tapi malah takut pas main nanti gitar yang harusnya dimainkan malah digambar motif bunga sama pak Anwar. Atau juga mau mengajak pak Ari Basuki untuk jadi vocalis, tapi takutnya waktu pas harusnya nyanyi pak Ari Basuki malah duduk masin didekat meja makan, horor deh. Mau mengajak mas Hendikus yang pandai main gitarpun tidak jadi, karena kata pak Anwar, mas Hendrikus akan bawa renungan diacara tersebut, saya urungkan, takut kualat hihihi.
Hingga akhirnya nama anak PPA yang itu-itu juga yang langsung masuk dalam target sasaran. Jadi final formasi dalam grup ini adalah Lisa yang akan menjadi ujung tombak sebagai Vocalis, Toro akan menyayat gitar, Inu akan membetot bass, Nando akan menyiksa kajon dengan menduduki dan menggebukinya , sedang saya akan memainkan licik-icik sambil menari, tapi belakangan saya urungkan karena saya tidak punya licik-icik dan saya takut di jewer pak Anwar jika aneh-aneh, akhirnya saya yang jadi Keyboardist.

Dan parahnya, diantara mereka yang saya pilih, saya hanya menghubungi Toro dan Inu untuk main bareng, sedang yang lain tidak saya kontak. Ceroboh..
Saya dan Toro sepakat secara lisan untuk bisa latihan bersama minimal sekali untuk mengenal lagu-lagu yang akan dibawakan. Dan hari Kamis atau Jumat kami sepakati.
Hari berganti hari, jam berganti jam, menit berganti menit, detik berganti detik, dan saya belum berganti menjadi Vidi Aldiano (lhoooo) Tapi ternyata semua diluar rencana yang saya dan Toro telah sepakati. Hari Kamis saya tidak bisa karena ada salah satu anak PPA yang sudah berpulang ke Rumah Bapa karena sakit DB (mari sejenak kita mengheningkan cipta selama 1 menit sebelum membaca kelanjutan cerita saya)
..............................................................................................................................................................................................................................................................................
 Sedari pagi saya dan bu Tika sudah dirumah duka, dan dari siang sampai sore saya dan rekan PPA yang lain ada diupacara kematian anak PPA tersebut. Sepulang dari acara itu saya merasa tidak enak badan, saya menduga ini karena adanya reaksi ketika saya kepanasan di TPU ditambah minum es buah di seberang jalan setelahnya. Gagal latihan
Hari Jumat, latihan kembali gagal. Siang itu BBM saya berbunyi dan si Toro nampaknya mulai panik karena kami belum persiapan sama sekali

“kak, latihannya kapan”

Saya tidak “R” BBM Toro, karena tidak tahu harus menjelaskan apa.
Sedari pagi saya dan bu Tika harus menghadiri pertemuan PPA Cluster Solo di Joyotakan. Fikir saya setelahnya saya bisa latihan dengan teman-teman, tapi gagal lagi. Saya jam 3 harus menghadiri upacara pemberkatan nikah teman PPA di GBIS Sambeng, dan sampai dirumah sudah cukup sore. Gagal latihan (lagi)

Saat itu Toro mungkin sedang gondok, si Inu sedang melihat HP nya dengan penuh harapan menunggu mendapat kabar konfirmasi latihan dari saya. Sedang Lisa dan Nando tidak tahu ancaman rasa malu yang akan mereka hadapi di acara tersebut.

Hal ini yang sebenarnya menjadi awal dari ke-grogian saya. Saya belum latihan dengan grup akustiknya. Semua jadi nampak horor, kekuatiran muncul. Benar jika saya juga main akustik di GKJ Jebres dan main akustik bersama #hashtag, tapi Ian bersama mereka latihan, dan ini tidak.
Saya jadi khawatir sendiri dan membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Bagaimana jika anggota grupnya tidak hadir semua? apakah akhirnya grup akustik fenomenal akan terbentuk? Saya, mas Hendrik, pak Anwar, dan pak Ari Basuki. Ahh, saya berharap agar grup ini tidak terbentuk. Kami nampaknya lebih cocok jadi BoyBand ala K-Pop dari pada grup akustik yang menjadi Home Band sebuah acara seperti ini.

Bagaimana kalau besok hujan? apa kami harus memakai jas hujan plastik Merk Gajah Duduk ketika main musik? atau Nanti pak Anwar harus memayungi kami berlima yang main musik ketika tampil? Tuhan jangan hujan

Bagaimana jika besok ada yang request lagu dadakan dalam acara tersebut dan kami tidak bisa? Apakah saya harus berpura-pura amnesia? Agar mereka tidak jadi request lagu?
Bagimana jika pak Anwar berubah menjadi Power Rangers merah yang doyan makan sate ayam? (iya-iya, yang ini bohong)

Sip, cukup jadi alasan yang pas untuk saya tidak bisa tidur tenang malam itu...

hatching, hatching, hatching

bukan, bukan saya yang bersin, ini suara ringtone sms di HP saya. Sekitar pukul 3 Sore pak Anwar sms saya

“dhe Ike sound’e wes tak toto, koe rene jam piro?”

“yo dhe, kosik aku jik nunggu omah, dilit ngkas aku mrono”

Saya berencana untuk datang di acara Nongkrong Bareng tersebut sekitar jam 4. Dalam fikiran saya, sesampainya jam 4 di sana, saya akan segera chek sound dan latihan sebentar dengan Lisa, Toro, Inu, dan Nando.

Tapi sms pak Anwar memaksa saya untuk datang lebih awal. Hingga saya tidak sempat untuk mandi terlebih dahulu dan hanya membawa sabun cuci muka. “Ah gampang, nanti tidak usah mandi, cuci muka saja” dalam hati

Selama perjalanan saya masih saja khawatir dengan acara nanti. Apalagi cuaca sore itu agak mendung gelap disertai angin kencang. Jika benar-benar hujan, saya khawatir nanti harus main musik sembari dibungkus jas hujan plastik.

Sampai di Gereja saya sempat takjub dengan yang saya lihat. Tenda kajang sudah berdiri dengan gagah dan tampak begitu kuat auranya. Sejujurnya saya mulai grogi.

“Pak nanti kita maen dimana pak?” tanya saya kepada pak Joko yang sedang menyapu halaman.

“Di sana mas” sembari menunjuk mini stage yang ada di dekat ayunan.

Saya mendekati mini stage yang tampak membuat saya kagum dalam hati. Dibawahnya dipasang lampu neon juga, sedang background putih dengan tanaman dalam pot susun pada kawat besi yang nampak gagah. Semakin saya senang ketika disegkitar mini stage ada daun-daun yang berserakan yang membuat suasana jadi semakin membuat saya bersemangat. Keren sekali
Sedang pak Joko malah membersihkan serakan daun yang berguguran itu (ya iya lah)

Saya langsung bergegas mencari komandan dari acara ini. “Dimana pak Anwar?” saya mencari dan tidak menemukan beliau. Di kantor? tidak ada, Di Gereja? tidak ada, DI ruang atas? tidak ada juga. Bahkan dibawah pot pak Anwar juga tidak ada (lagipula kenapa pak Anwar harus dibawah pot?) Belakangan saya mengetahui jika pak Anwar sedang mandi.

Saya bersegera mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk acara ini. Sound sudah dipersiapkan dan ditempatkan di samping kiri mini stage yang ada. Saya masih sibuk mondar-mandir ketika sadar jika pintu kantor dalam dalam keadaan terkunci rapat. Sedang bass dan kajon yang akan digunakan tertata manis didalam ruang yang terkunci rapat tersebut.

Segera saja saya menjadi panik. Kunci utama di bawa oleh Bapak Setyabudi dan kunci cadangan di bawa oleh Bapak Ari Kardono. Posisinya, pak Setyabudi belum datang dan pak Ari Kardono tidak ditempat. Pak Satpam juga tidak dititipi kunci tersebut. Sempat dalam hati ingin mendobrak pintu kantor tersebut dengan tangan gemulai saya tapi kemudian saya urungkan, karena takut di marahi pak Anwar. Alhasil saya menunggu.

Setelah beberapa saat akhirnya semua persiapan sudah dirasa sangat maksimal. Alat sudah lengkap, pemain sudah lengkap, dan makan malam sudah komplit.

Jemaat mulai berdatangan dan mulai duduk di atas tikar yang sudah dipersiapkan rekan-rekan panitia, beberapa jemaat duduk manis di atas ember lukis yang disulap menjadi kursi warna-warni nan cantik.
Thomas tampak begitu grogi dengan tanggungjawabnya sebagai MC di acara tersebut, sedang saya hanya terus berusaha meyakinkan dia bahwa dia pasti bisa untuk melaksanakan tugas ini dengan baik. Dia tetap saja grogi

Lagu pertama mulai kami mainkan. Harus diakui, Toro, Nando, Lisa, dan Inu terlahat canggung juga untuk menikmati bagian mereka ini. Walau secara skill musik, saya harus berani angkat topi untuk mereka. (karena saya tidak memakai topi, yang saya angkat topinya pak Anwar).

Acara berlangsung dengan baik. Ada sukacita yang dinikmati oleh semua yang hadir dalam acara itu. Semua tercampur menjadi satu, antara kebingungan Thomas karena tidak bisa menyanyikan lagu Theme Song, antara wajah Nando yang cerlang cemerlang terkena lampu neon, antara keceriaan lomba tebak profesi dari pak Anwar dkk, antara bu Agnes dkk yang mengajak kita senam goyang, antara ibu-ibu yang menjaga makanan yang sudah disiapkan, antara penyanyi solo dadakan yang membuat pemusik kelabakan, sampai antara fotografer yang mondar-mandir mengambil gambar dari momen kegiatan yang berlangsung.

Semua berlangsung dengan begitu menyenangkan.

Sedang saya? sejujurnya juga saya cukup tertekan dan khawatir dengan banyak hal dalam acara ini. Mulai dari hujan, khawatir pemusik tidak datang, takut tidak berkenan yang saya lakukan, takut tiba-tiba saya jadi ganteng (lhoo)

Harus diakui, rasanya lebih horor daripada waktu main di Jebres atau waktu main bareng #hashtag. Dan lebih dari itu semua, saya belajar bahwa dalam kemungkinan dan kesempatan apapun, persiapan yang matang harus saya lakukan agar apa yang sudah saya rencanakan bisa saya kerjakan dengan sangat baik

Tapi syukur, suasana yang begitu hangat membuat saya bisa lebih tenang dan fokus untuk tanggung jawab ini.

Dan satu lagi, saya merasa ada mata yang terus mengawasi dan mengamati saya sepanjang acara, dan itu yang membuat saya nyaman. Terimakasih ya....

Waktu begitu cepat berlalu, hingga tiba-tiba saya sudah berada di atas tempat tidur dan melihat layar laptop sedang jemariku masih membariskan tiap huruf untuk menjadi rapi menjadi kalimat-kalimat jujur dalam tulisan ini, tentang apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan.

O iya, selama acara berlangsung, saya tidak jadi mandi


Alas tidur 23:25
Sabtu 18102014

(nb: dari dalam hati, saya dengan tulus meminta maaf jika ada yang tidak berkenan atas tulisan saya ini dan saya mengucapkan terima kasih untuk setiap nama yang boleh dengan asli saya sebutkan pada tulisan saya.

Saya menuliskan semua dari sisi yang saya rasakan dan imajinasi yang ada dalam kepala saya. Semoga berkenan)
Read More >>
Technology Blog